INET Ekspansi ke Data Centre dan Sorotan Analis di Tengah Volatilitas Pasar IDX

INET
  • INET mendirikan anak usaha data centre PT Sinergi Inti Data Indonesia dengan modal Rp22 miliar untuk memperkuat ekspansi bisnis infrastruktur digital.
  • Sejumlah analis mempertahankan rekomendasi beli dan menaikkan target harga saham, seiring prospek pertumbuhan pendapatan dan margin yang solid.
  • Investor menanti kinerja kuartal IV dan realisasi proyek data centre sebagai katalis berikutnya di tengah volatilitas IHSG.

PT Sinergi Inti Andalan Prima Tbk (kode saham: INET) mengumumkan langkah korporasi penting dengan mendirikan anak usaha baru di bidang data centre, PT Sinergi Inti Data Indonesia (SIDI), dengan modal ditempatkan dan disetor sebesar Rp22 miliar. Langkah strategis yang diumumkan melalui keterbukaan informasi di Bursa Efek Indonesia pada Jumat (6/2) ini menjadi bagian dari upaya INET memperluas portofolio di luar layanan konektivitas tradisional dan internet service provider (ISP). INET menyetor modal lebih dari Rp18,7 miliar atau 85% saham SIDI, sementara sisanya dimiliki oleh PT Inti Pusat Data Nusantara (IPDN). SIDI akan fokus pada usaha inti sebagai operator data centre, sejalan dengan tren kebutuhan infrastruktur digital yang terus meningkat. (Investing)

Ekspansi ke data centre ini terjadi di tengah fase pertumbuhan yang dinamis bagi INET. Tahun lalu dan awal 2026, perusahaan telah memanfaatkan hasil rights issue dan penerbitan obligasi senilai total sekitar Rp4,2 triliun untuk mengembangkan jaringan FTTH di Bali, Lombok, dan Kalimantan Barat, serta memperkuat fondasi bisnis digitalnya. (Investing)

Pergerakan korporasi INET tak terlepas dari sorotan analis pasar modal. Dalam riset terbaru, Samuel Sekuritas Indonesia mempertahankan rekomendasi speculative buy dan bahkan menaikkan target harga saham INET secara signifikan hingga Rp1.350 per lembar, mencerminkan potensi kenaikan lebih dari 70% dibandingkan harga acuan sebelum suspensi perdagangan dicabut akhir 2025. Penetapan target ini didorong oleh kinerja kuartal III-2025 yang kuat, termasuk lonjakan pendapatan dan margin yang lebih tinggi dari ekspektasi. (Investing)

Selain itu, konsensus analis eksternal juga memproyeksikan bahwa saham INET memiliki strong buy dengan target rata-rata sekitar Rp590 per saham dalam 12 bulan ke depan, dengan estimasi tertinggi mencapai sekitar Rp620 berdasarkan laporan pasar finansial terbaru; rekomendasi buy ini didukung oleh prakiraan pertumbuhan pendapatan dan kebutuhan akan infrastruktur digital di Indonesia. (Investing)

Sentimen pasar terhadap INET juga dipengaruhi oleh dinamika yang lebih luas di Bursa Efek Indonesia. Pada pekan awal Februari 2026, indeks harga saham gabungan (IHSG) sempat tertekan setelah Moody’s menurunkan outlook kredit Indonesia menjadi negatif, yang menyebabkan aksi jual di pasar ekuitas domestik dan meningkatnya volatilitas. Perubahan sentimen makro ini turut mencerminkan tantangan bagi saham-saham teknologi dan infrastruktur seperti INET, meskipun perusahaan secara fundamental terus menunjukkan momentum pertumbuhan. (Investing)

Menyongsong ke depan, para pelaku pasar akan mengamati beberapa katalis utama yang dapat mempengaruhi arah saham INET. Pertama, perkembangan lebih lanjut dari unit data centre SIDI dan kemampuan unit ini menarik klien korporat besar akan menjadi indikator penting bagi potensi monetisasi jangka panjang. Kedua, hasil pelaksanaan rights issue dan efektivitas alokasi modal untuk proyek FTTH serta inisiatif kabel bawah laut akan menjadi perhatian, terutama jika dapat mendorong pertumbuhan pendapatan berulang. Ketiga, data kinerja keuangan kuartal IV-2025 dan proyeksi 2026 yang akan dirilis dalam beberapa minggu mendatang dapat menjadi pemicu volatilitas saham, terutama jika hasilnya keluar di atas atau di bawah ekspektasi konsensus analis. (Investing)

About The Author