Realisasi Prapenjualan DMAS Rp1,6 Triliun, Di Bawah Target Tahun 2025: Tekanan Eksternal dan Tantangan Sektor Properti Industri
Menurut Direktur dan Sekretaris Perusahaan DMAS, Tondy Suwanto, pencapaian prapenjualan tahun lalu sebagian besar ditopang oleh penjualan lahan industri seluas sekitar 46 hektare, dengan sektor data center sebagai kontributor terbesar yang menyumbang sekitar 60% dari total penjualan lahan industri. Segmen lain seperti FMCG, F&B, komersial, serta hunian juga turut menopang hasil prapenjualan. Meskipun demikian, sejumlah faktor eksternal seperti ketidakpastian ekonomi global, tingginya ketegangan geopolitik, dan kebijakan tarif timbal balik internasional turut menekan minat investasi asing — memicu sikap wait-and-see dan berdampak pada target marketing sales yang meleset dari sasaran awal. (Investing)
Realitas prapenjualan ini menjadi catatan lanjutan dari tren kinerja DMAS sepanjang 2025. Pada kuartal III, perseroan hanya mencatatkan Rp626,4 miliar atau sekitar 35% dari target tahunan, yang ketika itu juga telah dipandang sebagai indikator tekanan permintaan di sektor properti kawasan industri. (Investing)
Dari sisi harga saham, DMAS bergerak dinamis namun relatif terkoreksi dalam jangka panjang. Menurut konsensus analis terbaru, rata-rata target harga 12 bulan untuk saham DMAS berada di sekitar Rp125–Rp137, dengan pandangan neutral/hold, mencerminkan potensi downside terhadap harga pasar saat ini yang berada di kisaran Rp138–Rp140 per saham. (Investing)
Beberapa analis seperti yang dikutip oleh Kontan menilai bahwa saham emiten kawasan industri, termasuk DMAS, masih tertinggal dalam pemulihan dibandingkan sektor lain, meskipun fundamentalnya relatif stabil. Kepala riset dari beberapa sekuritas bahkan menempatkan rekomendasi tahan (hold) dengan target harga moderat, mengingat ketidakpastian ekonomi dan perlambatan aktivitas investasi di sektor properti industri. (Investing)