Moody’s Pangkas Rating INDY Akibat Rasio Utang Meningkat, Saham Tergelincir di Tengah Sentimen Pasar
- Moody’s menurunkan rating PT Indika Energy Tbk (INDY) ke B1 akibat peningkatan rasio utang dan lonjakan belanja modal proyek emas Awak Mas, dengan outlook direvisi menjadi stabil.
- Tekanan terhadap metrik kredit dan proyeksi leverage yang naik hingga sekitar 7x EBITDA memicu sentimen negatif di pasar, meski sebagian analis masih mempertahankan rekomendasi beli dengan target harga mendekati level saat ini.
- Katalis selanjutnya yang dicermati investor meliputi progres proyek Awak Mas, rilis kinerja kuartalan, pergerakan harga komoditas, serta potensi langkah manajemen untuk menurunkan utang dan memperbaiki struktur permodalan.
Lembaga pemeringkat kredit internasional Moody’s Ratings resmi menurunkan peringkat kredit PT Indika Energy Tbk (INDY) menjadi B1 dari sebelumnya Ba3, sebuah langkah yang mencerminkan meningkatnya tekanan pada metrik kredit perusahaan akibat lonjakan rasio utang seiring akselerasi belanja modal proyek tambang emas Awak Mas. Selain itu, senior secured notes senilai US$ 455 juta yang jatuh tempo pada Mei 2029 juga diturunkan ke tingkat B1 dari Ba3, sementara outlook rating direvisi menjadi stabil dari negatif. Moody’s menyatakan bahwa kenaikan belanja modal untuk proyek Awak Mas, di tengah harga batu bara termal yang relatif lemah, berpotensi memperlemah profil kredit INDY lebih lanjut. (Petromindo)
Dalam komentar analis Moody’s, Anthony Prayugo mengatakan bahwa meskipun harga emas yang tinggi dapat mendukung kontribusi laba yang signifikan setelah produksi komersial dimulai, ruang bagi INDY untuk menambah utang pada level peringkat sebelumnya semakin terbatas. Moody’s memperkirakan total utang yang disesuaikan akan meningkat menjadi sekitar US$ 1,4 miliar pada akhir 2026 dari US$ 1,1 miliar pada 2025, sementara rasio utang terhadap EBITDA diproyeksikan naik menjadi sekitar 7,0 kali. Hal ini jauh melebihi level yang konsisten dengan peringkat Ba3 sebelumnya, sehingga mendorong penurunan peringkat kredit INDY ke B1. (Petromindo)
Sentimen negatif ini langsung berdampak pada pergerakan harga saham INDY di Bursa Efek Indonesia. Saham INDY sempat bergerak melemah dalam sesi perdagangan—meskipun tidak terjun tajam—di tengah tekanan jual moderat setelah pengumuman Moody’s. Data harga terkini menunjukkan saham INDY diperdagangkan di kisaran Rp3.570, bergerak di bawah puncak mingguan yang sempat berada di atas Rp3.600 sebelum berita tersebut mengemuka. (Kabar Bursa)
Para analis institusi sebelumnya telah memberikan pandangan yang relatif beragam terhadap prospek saham INDY sebelum aksi penurunan peringkat ini. Data konsensus analis menunjukkan rata-rata target harga 12-bulan sekitar Rp3.450, dengan rentang target dari Rp3.300 hingga Rp3.600, dan mayoritas rekomendasi tetap buy, menandakan pandangan bullish moderat terhadap pergerakan harga saham jangka menengah meskipun valuasi saat ini mendekati area yang memerlukan kehati-hatian. (investing)
Penurunan peringkat Moody’s terjadi di tengah kompleksitas makro yang lebih luas: pada awal Februari, Moody’s juga mengubah outlook peringkat utang pemerintah Indonesia menjadi negatif, mempengaruhi selera risiko investor dan mendorong pergerakan meluas di pasar saham dan obligasi domestik. Sentimen ini turut memberikan tekanan terhadap Indeks Harga Saham Gabungan sebelum akhirnya IHSG rebound dari support psikologis, sejalan dengan upaya pelaku pasar menilai ulang risiko domestik secara menyeluruh. (IDN Financials)
Meski demikian, prospek jangka panjang INDY tetap bergantung pada ekseskusi proyek Awak Mas dan kontribusinya terhadap kinerja keuangan grup. Proyek tersebut diperkirakan mulai uji coba produksi pada akhir 2026, dengan potensi EBITDA signifikan saat mencapai kapasitas penuh. Realisasi tersebut bisa menjadi katalis positif untuk memperbaiki metrik pendanaan dan membuka ruang bagi revisi peringkat yang lebih baik di masa depan, terutama jika utang berhasil ditekan dan laba konsisten meningkat setelah produksi emas komersial dimulai pada 2027. (kontan)
Ke depan, pelaku pasar akan mencermati sejumlah faktor kunci sebagai katalis berikutnya. Selain progres Awak Mas, pelaporan kinerja keuangan kuartal I 2026 dan pembaruan panduan operasional akan menjadi fokus investor, di tengah dinamika harga komoditas global dan perkembangan metrik kredit perusahaan. Trader juga akan memantau respons pasar terhadap kebijakan kredit domestik dan sentimen makro yang lebih luas, seiring dengan potensi aksi korporasi seperti divestasi aset atau strategi pengurangan utang yang dapat memengaruhi persepsi risiko bagi saham INDY di Bursa Efek Indonesia. (Petromindo)