10 Saham Penghuni Top Losers Sepekan, Ada HILL hingga BBSS: Tekanan Jual Menjadi Sorotan Pasar

saham
  • Sejumlah saham seperti HILL dan BBSS masuk jajaran top losers sepekan meski IHSG masih mencatat penguatan, mencerminkan tekanan jual pada saham mid dan small cap.
  • Aksi jual pengendali serta sentimen fundamental dan teknikal yang lemah memperburuk volatilitas, sementara analis cenderung memberikan rekomendasi netral dengan risiko jangka pendek tinggi.
  • Pelaku pasar kini menanti katalis berikutnya, termasuk rilis kinerja kuartal I, arah suku bunga global, dan arus dana asing yang akan menentukan pergerakan saham selanjutnya.

Pergerakan pasar modal Indonesia sepanjang pekan 9–13 Februari 2026 mencatat dinamika berbeda dengan mayoritas saham mencatat penguatan tetapi sejumlah emiten justru menghuni jajaran saham top losers, menimbulkan sorotan investor dan analis. Berdasarkan data resmi Bursa Efek Indonesia (BEI), Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berhasil menguat 3,49% ke level 8.212,27 dari posisi penutupan pekan sebelumnya, tetapi aksi jual terakumulasi di beberapa saham mid-cap dan kecil dengan koreksi harga antar 7% hingga lebih dari 30% dalam lima hari perdagangan terakhir. (RCTI)

Di puncak daftar top losers, PT Hillcon Tbk (HILL) kembali menjadi sorotan utama setelah tercatat mengalami koreksi tajam hingga sekitar 33,33% selama sepekan, menutup di harga sekitar Rp80 per lembar. Penurunan ini diperburuk oleh tekanan dari internal, termasuk aksi penjualan saham oleh pengendali perusahaan yang terpantau beberapa hari sebelum periode laporan, yang turut menekan sentimen investor. Data frekuensi transaksi menunjukkan aktivitas jual cukup tinggi, bahkan sejumlah sesi harga saham sempat menyentuh auto rejection bawah (ARB), mekanisme batas bawah Bursa yang menandakan tekanan jual ekstrem. (RCTI)

Sejauh ini konsensus analis mengenai HILL menunjukkan rekomendasi netral dengan target harga rata-rata sekitar Rp200 untuk 12 bulan ke depan, memberikan potensi kenaikan signifikan dari level saat ini jika fundamental membaik dan sentimen pasar berbalik arah. Namun, seiring siklus belanja modal yang tinggi dan arus kas yang masih ketat, beberapa analis menilai saham ini masih menghadapi risiko volatilitas tinggi. (investing)

Sementara itu, PT Bumi Benowo Sukses Sejahtera Tbk (BBSS) juga termasuk di antara saham yang melorot signifikan, tercermin dalam penurunan sekitar 9,09% pada pekan ini. Meskipun tidak sevolatil HILL, BBSS menunjukkan kisaran harga yang relatif rapuh dari sisi teknikal, bergerak di rentang rendah dan memiliki volatilitas tinggi dalam beberapa sesi terakhir. Dari sisi estimasi analis, data konsensus menunjukkan adanya proyeksi pergerakan harga 12 bulan ke depan namun detail rata-rata target tidak semasif saham blue chip, mencerminkan pendapat pasar yang hati-hati terhadap prospek saham properti small cap ini. (RCTI)

Tekanan jual yang dialami saham-saham ini tidak terlepas dari sentimen pasar yang lebih luas. Meskipun IHSG masih mencatat penguatan pekanan yang sehat, aksi jual investor asing di sejumlah saham large cap seperti BBCA dan sektor perbankan menunjukkan kebutuhan investor untuk menata ulang portofolio mereka, sementara risiko eksternal seperti isu peninjauan indeks global juga terus membebani sentimen pasar. (Liputan6)

Analis pasar mencatat bahwa rake-balik pada saham mid-cap dan small cap sering terjadi pada fase ketika indeks utama bertahan di zona hijau karena investor mengalihkan alokasi modal ke saham yang lebih likuid atau sektor defensif, meninggalkan saham dengan likuiditas rendah untuk mengalami koreksi lebih dalam. Di tengah kondisi ini, IHSG sendiri sempat melemah di beberapa sesi tengah pekan, memperlihatkan bahwa tekanan jual masih ada meskipun gambaran jangka menengah masih bullish. (idxchannel)

Trader dan investor kini disibukkan oleh sejumlah katalis yang kemungkinan akan memengaruhi arah pasar selanjutnya. Pertemuan lanjutan Indonesia dengan MSCI untuk membahas kriteria indeks dan transparansi pasar modal dijadwalkan berlangsung akhir pekan ini, langkah yang diharapkan dapat meredakan tekanan keluar modal asing. Selain itu, rilis data inflasi AS dan keputusan kebijakan suku bunga bank sentral global turut akan menentukan risiko pasar saham domestik dalam beberapa minggu mendatang. (Reuters)

About The Author