Pendapatan XLSMART (EXCL) Tembus Rp42,5 Triliun pada 2025, Analis Bertaruh pada Sinergi Pascamerger di Tengah Tekanan Rugi Bersih

EXCL
  • Pendapatan PT XLSMART Telecom Sejahtera Tbk (EXCL) menembus Rp42,5 triliun pada 2025, tumbuh 23% YoY, didorong kontribusi kuat layanan data dan digital pascamerger.
  • Meski pendapatan naik, EXCL masih mencatat rugi bersih akibat tekanan beban operasional dan biaya integrasi, memicu perbedaan pandangan analis soal prospek saham.
  • Investor kini menanti katalis berikutnya seperti kinerja kuartal I/2026, realisasi sinergi merger, serta perkembangan ARPU dan jumlah pelanggan di tengah persaingan industri.
Emiten telekomunikasi PT XLSMART Telecom Sejahtera Tbk (IDX: EXCL) mencatat capaian pendapatan yang mengesankan sepanjang tahun buku 2025, dengan total pendapatan mencapai Rp 42,5 triliun, tumbuh 23 persen secara year-on-year (YoY) dari periode sebelumnya, menurut laporan keuangan dan keterbukaan informasi perusahaan yang dirilis ke Bursa Efek Indonesia baru-baru ini. Pertumbuhan pendapatan tersebut datang di tengah integrasi pascamerger antara XL Axiata dan Smartfren, yang konsolidasi operasionalnya dinilai mulai membuahkan hasil di top-line bisnis. (pasardana)

Pendapatan perusahaan didorong oleh kontribusi kuat dari layanan data dan digital yang menyumbang lebih dari 90 persen keseluruhan pendapatan, mencerminkan pergeseran tren konsumsi pelanggan ke layanan yang semakin berbasis internet dan digital. EBITDA yang dinormalisasi juga tumbuh 13 persen menjadi sekitar Rp 20,1 triliun dengan margin 47 persen, sementara laba bersih dinormalisasi meningkat tajam 63 persen YoY mencapai Rp 3 triliun. Manajemen menekankan bahwa proses integrasi jaringan pascamerger berjalan lebih cepat dari rencana awal, memperkuat fondasi jaringan serta transformasi digital perusahaan. (medcom)

Namun di tengah pencapaian pendapatan, data lain dari laporan keuangan menunjukkan bahwa EXCL masih mencatat rugi bersih sekitar Rp 4,4 triliun pada tahun penuh 2025, berbalik dari laba pada periode sebelumnya. Pembengkakan beban operasional, termasuk biaya interkoneksi dan penyusutan, menjadi faktor utama yang menekan bottom-line perusahaan. (Warta Ekonomi)

Respons pasar atas fundamental gabungan tersebut juga tercermin dalam dinamika harga saham EXCL. Pada sesi perdagangan terakhir, saham perusahaan sempat menjadi top losers di jajaran LQ45, turun sekitar 3,65 persen di tengah koreksi IHSG yang lebih luas. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sendiri sempat melemah sekitar 0,57 persen pada sesi siang. (investing)

Di sisi analis, sentimen terhadap saham EXCL relatif beragam. Beberapa rumah riset masih mempertahankan rekomendasi buy dengan target harga agresif, seperti Trimegah Sekuritas yang menetapkan target harga hingga Rp 5.000 per saham dan Maybank Sekuritas yang menjadikan EXCL sebagai top pick sektor dengan target sekitar Rp 4.100, menggarisbawahi potensi sinergi pascamerger dan arah pertumbuhan jangka panjang. Namun rekomendasi lain bersifat lebih konservatif; Panin Sekuritas menempatkan EXCL pada rating hold dengan target harga sekitar Rp 2.700, sementara JP Morgan Sekuritas bahkan mengeluarkan rekomendasi underweight dengan target hanya Rp 1.600, mencerminkan kekhawatiran tentang tekanan margin dan transisi operasional pascamerger. (ipotnews)

Konsensus data memperlihatkan rata-rata target harga analis berada di kisaran Rp 3.1 – 3.5 ribu, dengan estimasi tertinggi mencapai lebih dari Rp 4.5 ribu dan terendah di bawah Rp 1.7 ribu, mengindikasikan adanya spektrum pandangan yang lebar di antara pelaku riset pasar. (TradingView)

Secara makro, pencapaian EXCL juga terjadi di tengah momentum ekonomi Indonesia yang relatif solid. Laporan terbaru dari Badan Pusat Statistik menunjukkan bahwa perekonomian nasional tumbuh di atas 5 persen di beberapa kuartal terakhir, menjadi salah satu faktor penguat fundamental sektor digital dan telekomunikasi. (Reddit)

Melihat ke depan, para pelaku pasar akan mencermati sejumlah katalis yang berpotensi memengaruhi pergerakan saham EXCL, termasuk capaian laba bersih kuartal I/2026, dampak lanjutan dari sinergi pascamerger, serta prospek pertumbuhan ARPU di tengah persaingan ketat dengan operator lain di sektor telekomunikasi Indonesia. Pergerakan indikator operasional seperti jumlah pelanggan aktif, trafik data, dan strategi monetisasi layanan digital juga diantisipasi menjadi fokus investor menjelang rilis laporan keuangan berikutnya. (bandungberitakini)

About The Author