Kerugian Link Net Milik Axiata Bengkak Jadi Rp1,44 Triliun, Analis Soroti Tantangan Bisnis dan Sentimen Pasar

linkk
  • PT Link Net Tbk mencatat kerugian bersih membengkak menjadi Rp1,44 triliun meski pendapatan tumbuh sekitar 22% menjadi Rp3,08 triliun.
  • Tekanan biaya jaringan, penyusutan, dan beban operasional tinggi menekan profitabilitas, di tengah pengawasan ketat dari induk usaha Axiata Group Berhad.
  • Investor kini menantikan katalis berikutnya, termasuk potensi aksi korporasi dan pembaruan panduan kinerja, seiring volatilitas sektor telekomunikasi dan pergerakan IHSG.
PT Link Net Tbk (kode saham: LINK), unit infrastruktur telekomunikasi yang mayoritas dikendalikan oleh Axiata Group Berhad, menutup periode tahun buku 2025 dengan kinerja keuangan yang kembali mencatat tekanan signifikan setelah rugi bersih tertekan dan membengkak menjadi Rp1,44 triliun dibandingkan kerugian Rp1,18 triliun pada 2024. Angka ini mengindikasikan bahwa tekanan biaya masih lebih dominan ketimbang pertumbuhan pendapatan meskipun topline meningkat secara substantive. (investing)

Berdasarkan laporan keuangan yang diungkapkan ke Bursa Efek Indonesia, Link Net berhasil mencatat pertumbuhan pendapatan 22% menjadi sekitar Rp3,08 triliun sepanjang tahun lalu. Kontribusi pendapatan utamanya datang dari segmen sewa jaringan korporasi, TV kabel, dan layanan broadband, mencerminkan masih kuatnya permintaan di beberapa lini usaha. Namun, lonjakan beban jaringan serta beban langsung lainnya yang naik drastis serta penyusutan dan amortisasi yang tinggi turut menyumbang tekanan pada bottom line perusahaan. (investing)

Dalam konteks pasar saham, saham LINK sempat diperdagangkan dalam rentang luas sepanjang 12 bulan terakhir, dengan level tertinggi di kisaran Rp5.300 dan terendah di sekitar Rp1.400 per lembar, mencerminkan volatilitas sentimen investor terhadap prospek bisnis dan profitabilitas jangka pendek. (Sectors Financial Data Platform)

Kinerja Link Net juga tidak bisa dilepaskan dari dinamika di induk usahanya, Axiata Group Berhad. Para analis global memperkirakan bahwa saham Axiata memiliki target harga rata-rata sekitar RM2,85 dalam 12 bulan ke depan, dengan potensi upside lebih dari 20% dari harga kini, walau target tertinggi dan terendah di antara para analis menunjukkan rentang estimasi yang lebar. Rekomendasi konsensus untuk Axiata secara umum cenderung “Buy”, tetapi tersebar antara buy, hold, hingga sell di kalangan analis. (investing)

Lebih jauh, data rekomendasi broker untuk PT XLSMART Telecom Sejahtera Tbk — entitas yang merupakan hasil penggabungan XL Axiata dan Smartfren serta mengelola sebagian besar aset Axiata di Indonesia termasuk sebagian kepemilikan Link Net — mencerminkan tren penyesuaian target harga. Beberapa institusi seperti MNC Securities dan UOB Kay Hian baru-baru ini menurunkan target harga saham XLSMART menjadi di bawah Rp3.100, sejalan dengan tekanan profitabilitas dan tantangan operasional di jaringan telekomunikasi nasional. (MarketScreener)

Sentimen negatif terhadap tekanan biaya yang dihadapi Link Net dan tekanan marjin juga tercermin dalam dinamika harga saham di industri telekomunikasi yang lebih luas. Misalnya, saham lain seperti XL Axiata (sekarang di bawah entitas XLSMART) mencatat rata-rata target harga analis sekitar Rp3.182 dengan konsensus rating “Buy”, namun juga menunjukkan perbedaan pandangan yang cukup lebar antar lembaga analis. (investing)

About The Author