Tekanan Jual CIC Menyusut, Saham BUMI Siap Lepas Beban dan Tancap Gas?
Pada perdagangan Kamis (19/2/2026), saham BUMI tercatat menguat signifikan dan diperdagangkan di kisaran Rp300 per saham, naik lebih dari 5% pada sesi pagi, di tengah aktivitas perdagangan yang padat. Penguatan ini dikaitkan dengan ekspektasi pasar bahwa tekanan jual dari investor lama seperti CIC mulai mereda, seiring CIC terus memangkas kepemilikannya secara bertahap hingga tersisa sekitar 2,81%, jauh dari posisi puncaknya di atas 5% pada Desember lalu. (Ajaib)
Perubahan struktur pemegang saham ini dinilai memperbaiki profil likuiditas dan menurunkan tekanan supply yang selama berbulan-bulan membatasi ruang gerak harga BUMI, terutama ketika aksi divestasi tersebut digabungkan dengan volatilitas IHSG. Struktur pemegang saham kini didominasi oleh pemilik strategis seperti Mach Energy yang mengontrol hampir 45,78%, serta peningkatan porsi free float yang memperbesar basis investor ritel dan institusi. (Media Indonesia)
Dalam konteks rekomendasi analis, konsensus pasar menunjukkan beragam proyeksi terhadap saham BUMI. Sebagai contoh, menurut data riset pasar, target harga konsensus analis jangka 12 bulan terhadap BUMI sempat dipatok di sekitar Rp300/share, bahkan banyak analis melihat potensi upside hingga Rp600–Rp800 atau lebih agresifnya di sekitar level Rp1.000, bergantung pada realisasi rebalancing MSCI dan perbaikan fundamental utilitas usaha. (Ajaib)
Beberapa analis juga menekankan pentingnya aspek teknikal dalam membaca momentum saham ini. Di beberapa riset internal yang beredar, level resistance teknikal untuk BUMI disebut berada di rentang Rp394 hingga Rp420, sedangkan support penting juga diwaspadai di sekitar Rp320–Rp344, menandakan volatilitas yang masih tinggi namun memberi titik acuan bagi trader jangka pendek. (Investor)
Konteks pasar yang lebih luas turut memengaruhi sentimen BUMI. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada hari yang sama justru ditutup melemah sekitar 0,43%, didorong oleh keputusan Bank Indonesia mempertahankan suku bunga acuan di 4,75%, yang memberikan tekanan pada saham-saham bank jumbo tetapi memberikan ruang bagi sektor komoditas untuk menarik minat investor asing. Meski demikian, aktivitas net buy asing masih tercatat positif di sejumlah saham, termasuk BBMA dan ANTM, yang menunjukkan sentimen relatif selektif di pasar. (investing)
Investor juga terus mencermati berita lain seperti aksi jual oleh manajer investasi besar seperti BlackRock yang melepas jutaan saham BUMI baru-baru ini, meskipun langkah tersebut dilihat sebagian pelaku pasar sebagai realisasi keuntungan setelah reli harga yang signifikan. (Herald)
Melihat ke depan, para trader dan investor tengah memantau beberapa katalis potensial yang dapat mendorong arah harga selanjutnya. Di antaranya adalah hasil evaluasi indeks MSCI Global Standard/IMI yang dapat membuka peluang aliran dana institusional jika BUMI resmi naik kelas, serta momentum laporan keuangan kuartal-pertama yang akan membawa sinyal fundamental lebih jelas. Selain itu, perkembangan global harga komoditas batu bara, kebijakan produksi batubara Indonesia, serta indikasi permintaan dari pasar ekspor juga akan menjadi perhatian di sesi perdagangan mendatang. (Ajaib)