BFI Finance (BFIN) Tutup Anak Usaha Fintech dan Ajukan Pencabutan Izin ke OJK: Implikasi Saham dan Prospek Pasar

bfi2
  • PT BFI Finance Indonesia Tbk (BFIN) menutup anak usaha fintech dan mengajukan pencabutan izin ke Otoritas Jasa Keuangan, dengan manajemen menyatakan tidak ada dampak material terhadap kinerja konsolidasi.
  • Saham BFIN menguat setelah pengumuman tersebut, didukung sentimen buyback saham dan konsensus analis yang masih melihat potensi kenaikan harga dalam 12 bulan ke depan.
  • Investor menanti laporan keuangan terbaru, perkembangan kualitas kredit, serta realisasi buyback sebagai katalis berikutnya bagi pergerakan saham BFIN.
PT BFI Finance Indonesia Tbk (BFIN) kembali menjadi sorotan pasar modal Indonesia setelah mengumumkan keputusan strategis menghentikan operasi anak usaha fintechnya dan mengajukan pencabutan izin usaha kepada Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Dalam keterbukaan informasi yang dirilis Bursa Efek Indonesia pada 20 Februari 2026, manajemen BFIN menyatakan bahwa PT Finansial Integrasi Teknologi—anak usaha yang bergerak di layanan pendanaan bersama berbasis teknologi informasi atau fintech peer-to-peer lending—telah resmi menghentikan kegiatan operasional dan mengirimkan permohonan pencabutan izin LPBBTI ke OJK. Menurut perseroan, langkah ini tidak akan menimbulkan dampak signifikan terhadap kinerja operasional dan kondisi keuangan BFIN secara konsolidasi. (kontan)

Berita korporasi ini muncul di tengah gelombang aksi korporasi yang lebih luas dari emiten multifinance, termasuk rencana buyback saham senilai Rp 100 miliar yang diumumkan perseroan untuk memperkokoh kepercayaan investor di tengah volatilitas pasar modal. BFI memperkirakan buyback akan dilaksanakan selama tiga bulan sejak 23 Februari 2026 dengan menggunakan kas internal tanpa menimbulkan dampak material pada posisi keuangan. (kontan)

Respons pasar atas berita penghentian bisnis fintech cukup positif dalam jangka pendek. Jumat lalu, harga saham BFIN ditutup menguat hampir 7 persen ke level sekitar Rp 765 per saham, mengangkat tren kenaikan dalam lima hari perdagangan sebelumnya menjadi hampir 8 persen. Investor tampaknya merespons kombinasi aksi korporasi buyback dan penataan portofolio bisnis sebagai langkah defensif manajemen di tengah gejolak pasar. (kontan)

Dari sisi analis, konsensus proyeksi harga saham BFIN menunjukkan potensi kenaikan. Berdasarkan pengolahan data analis terbaru, rata-rata target harga 12 bulan untuk BFIN berada di kisaran Rp 915, dengan estimasi tertinggi mencapai Rp 1.200 dan terendah sekitar Rp 700, mencerminkan rata-rata rekomendasi “Buy” meskipun dengan rentang pandangan yang lebar. Finisci rilis riset lain juga menunjukkan sejumlah lembaga sekuritas seperti BNI Sekuritas dan CGS International Sekuritas sebelumnya mematok target harga lebih tinggi di atas Rp 1.150–1.200, menandakan beberapa analis tetap melihat valuasi BFIN menarik untuk jangka menengah. (indopremier)

Namun, gambaran analis tidak sepenuhnya seragam. Sebelumnya pada 2025, salah satu bank investasi besar, UBS, pernah menurunkan rating BFIN dari “Buy” ke “Sell” sambil memangkas target harga secara signifikan, dengan alasan kekhawatiran terhadap siklus kredit yang melemah dan potensi penurunan laba bersih di tahun-tahun mendatang. Kondisi ini mencerminkan adanya ketidakpastian fundamental yang masih mengitari prospek bisnis multifinance, terutama terkait dinamika kredit di sektor otomotif dan pembiayaan konsumsi. (investing)

About The Author