INCO Tancap Gas Proyek Baterai EV US$ 9 Miliar, Analis Ramai-Ramai Naikkan Target Harga Saham
Di tengah euforia itu, analis pasar modal menanggapi positif langkah strategis Vale dengan sejumlah penyesuaian rekomendasi saham dan proyeksi target harga. Konsensus analis, berdasarkan data pasar terbaru, menunjukkan rekomendasi buy untuk saham INCO dengan target harga 12 bulan rata-rata di kisaran Rp 6.867 per saham, meskipun ada estimasi rentang target yang cukup lebar dari sekitar Rp 3.500 hingga di atas Rp 10.000. Hal ini mencerminkan optimisme terhadap potensi pertumbuhan kinerja serta risiko volatilitas pasar nikel global yang masih dinamis. (investing)
Selain itu, laporan analis independen dari investortrust.id menyebutkan bahwa target harga saham Vale Indonesia direvisi naik ke sekitar Rp 6.800 per saham pada awal 2026, didukung oleh rencana monetisasi penjualan bijih nikel dan tren kenaikan harga komoditas tersebut di pasar global. Tidak hanya itu, riset dari sumber lain malah memproyeksikan optimisme lebih tinggi dengan target saham potensial mencapai hingga Rp 8.800, dengan rekomendasi outperform dari satu rumah riset besar, mencerminkan ekspektasi bahwa pembatasan kuota produksi nikel global dapat mendongkrak harga komoditas dan profitabilitas emiten. (neraca)
Rekomendasi dan target harga yang berbeda-beda ini menunjukkan bahwa meskipun prospek jangka panjang terlihat menjanjikan, investor tetap harus menghadapi risiko kondisi fundamental nikel yang fluktuatif serta tantangan eksekusi proyek yang besar skalaannya. Ketidakpastian harga nikel di London Metal Exchange dan volume produksi menjadi faktor yang sering dikutip dalam riset, mempengaruhi pandangan para analis terhadap valuasi saham INCO di waktu mendatang. (kontan)
Konteks lebih luas di pasar modal Indonesia pada pekan yang sama menunjukkan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) bergerak variatif, dengan aktivitas saham-saham tambang termasuk INCO sering masuk dalam daftar saham yang paling banyak dibeli oleh investor asing, mencerminkan minat yang terus tumbuh pada sektor komoditas meskipun sentimen makro global masih bergejolak. (PT.Kontan Grahanusa Mediatama)