TPIA Tertekan Force Majeure, Saham Bergerak Tajam di Premarket Jelang Perdagangan Kamis 5 Maret 2026
- TPIA bergerak volatil jelang perdagangan Kamis (5/3/2026) setelah penutupan turun -6,87% dan indikasi pra-pembukaan masih melemah di tengah sentimen force majeure.
- Pasar merespons risiko gangguan pasokan bahan baku, sementara IHSG juga terkoreksi tajam sehingga memperbesar tekanan sektoral.
- Pelaku pasar kini fokus pada perkembangan konflik global, potensi normalisasi operasional, serta rilis kinerja keuangan berikutnya sebagai katalis utama.

Menjelang pembukaan sesi perdagangan Kamis, 5 Maret 2026, saham PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA) diperdagangkan dengan tekanan di pasar pra-pembukaan menyusul pengumuman force majeure akibat gangguan pasokan bahan baku dari kawasan Selat Hormuz yang dilanda konflik militer antara Iran dan sekutunya. Manajemen TPIA menyatakan telah memberitahukan keadaan kahar kepada mitra usaha karena gangguan distribusi pasokan melalui lintasan strategis tersebut, sementara durasi force majeure masih belum pasti dan perusahaan mengantisipasi dengan menurunkan tingkat operasional pabriknya. (Kumparan)
Sentimen negatif ini tercermin dari kinerja harga saham pada perdagangan Rabu (4/3/2026), di mana saham TPIA ditutup turun signifikan di tengah koreksi tajam Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). Data menunjukkan TPIA melemah sekitar -6,87 % pada penutupan sesi perdagangan sebelumnya dan berada di level sekitar Rp 5.425 per saham menjelang akhir hari, sementara IHSG tertekan dan menurun lebih dari -4,5 % di seluruh pasar saham Indonesia. (Berita Jejak Fakta)
Pergerakan di luar jam perdagangan resmi juga memberikan gambaran tekanan lanjutan. Dalam perdagangan after-hours, TPIA sempat diperdagangkan lebih rendah sekitar -2,3 % dari harga penutupan akhir hari perdagangan kemarin menurut data pra-market tingkat likuiditas rendah, mencerminkan kekhawatiran investor terhadap ketidakpastian pasokan bahan baku serta dampaknya terhadap kinerja produksi dan margin perusahaan. Sementara itu, IHSG futures juga menunjukkan tekanan lanjutan di sesi pra-pembukaan meskipun belum stabilitas penuh terlihat di awal pembukaan perdagangan di Bursa Efek Indonesia. (investing)
Selain isu pasokan global, pasar juga menimbang proyeksi fundamental TPIA. Rata-rata target harga analis selama 12 bulan terakhir menunjukkan perkiraan average di sekitar Rp 4.713, dengan kisaran dari Rp 1.090 hingga Rp 10.600, mencerminkan beragam pandangan terhadap prospek saham emiten petrokimia terbesar Indonesia ini. Beberapa analis institusional bahkan menyematkan rekomendasi underweight dengan target harga sangat konservatif di Rp 1.090, mencerminkan ekspektasi tekanan tambahan jika kondisi eksternal tidak membaik. (investing)
Dari sisi fundamental kredit, TPIA memperoleh peringkat kredit korporat “idAA-” dari PT Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo) dengan outlook stabil, yang mencerminkan kepercayaan atas ketahanan neraca keuangan jangka menengah perusahaan meskipun sedang menghadapi tekanan operasional saat ini. (PEFINDO)
Konteks pasar yang lebih luas menunjukkan bahwa tekanan pada saham TPIA tidak terlepas dari kondisi makro dan pasar global. IHSG pada perdagangan sebelumnya mencatat tekanan luas di seluruh sektor, dengan sebagian besar saham blue-chip berakhir di zona merah seiring sentimen risiko global meningkat. Harga komoditas energi seperti minyak mentah dunia dan batu bara meningkat tajam, tetapi hal ini belum cukup mengimbangi kekhawatiran pasar terhadap gangguan pasokan bahan baku industri petrokimia. (Stockbit Snips)