Blibli (BELI) Bidik Pertumbuhan 20% di 2026, Uji Ketahanan di Tengah Konsumsi Selektif

ezvsynqabd5nvjqa8qo6
  • Blibli (BELI) menargetkan pertumbuhan pendapatan 15–20% di 2026 setelah mencatat lonjakan kinerja kuat pada 2025.
  • Strategi omnichannel dan efisiensi biaya menjadi kunci untuk meningkatkan margin dan menuju profitabilitas.
  • Investor menunggu katalis seperti kinerja kuartalan, perbaikan EBITDA, dan momentum konsumsi saat Ramadan/Lebaran.

PT Global Digital Niaga Tbk (BELI) atau Blibli memasuki tahun 2026 dengan nada optimisme yang terukur. Setelah membukukan lonjakan kinerja sepanjang 2025, manajemen kini mengarahkan fokus pada pertumbuhan yang lebih berkelanjutan dengan target kenaikan pendapatan sebesar 15% hingga 20% tahun ini. Target tersebut muncul dalam konteks pembaruan panduan kinerja (guidance update) pasca rilis laporan keuangan tahunan, sekaligus menjadi sinyal bahwa perseroan mulai bertransisi dari fase ekspansi agresif menuju penguatan profitabilitas.

Berdasarkan laporan keuangan terbaru yang dirilis perusahaan, Blibli mencatat pendapatan neto sebesar Rp22,36 triliun pada 2025, tumbuh 34% secara tahunan. Pertumbuhan ini didorong oleh performa kuat di seluruh segmen, terutama kategori elektronik konsumen serta kontribusi ekspansi omnichannel yang semakin luas. Kinerja tersebut juga diiringi dengan perbaikan struktur biaya dan peningkatan margin operasional, tercermin dari kenaikan EBITDA serta efisiensi yang mulai terlihat di sisi operasional. (PT. Kontan Grahanusa Mediatama)

Manajemen menekankan bahwa strategi omnichannel tetap menjadi tulang punggung pertumbuhan ke depan. Dengan jaringan ritel fisik yang terus berkembang—termasuk ratusan toko elektronik dan puluhan supermarket premium—Blibli berupaya mengintegrasikan pengalaman belanja online dan offline untuk meningkatkan retensi pelanggan serta monetisasi ekosistem. Integrasi ini juga diperkuat melalui ekosistem yang mencakup platform seperti tiket.com dan Ranch Market, memperluas sumber pendapatan lintas vertikal. (disway)

Namun, target pertumbuhan dua digit tersebut tidak lepas dari tantangan. Lingkungan makroekonomi domestik menunjukkan dinamika yang kompleks, di mana konsumsi rumah tangga cenderung lebih selektif meskipun pemerintah menargetkan pertumbuhan ekonomi sekitar 5,7% pada awal 2026. Tekanan inflasi, suku bunga yang relatif tinggi, serta kompetisi ketat di sektor e-commerce menjadi faktor yang dapat membatasi akselerasi kinerja BELI dalam jangka pendek. (PT.Kontan Grahanusa Mediatama)

Dari sisi pasar modal, saham teknologi termasuk BELI masih bergerak dalam bayang-bayang volatilitas global dan rotasi sektor. Dalam beberapa riset sebelumnya, analis menyoroti bahwa kunci rerating saham e-commerce terletak pada kemampuan memperbaiki margin dan menuju profitabilitas berkelanjutan. Blibli dinilai memiliki peluang tersebut melalui stabilisasi biaya operasional dan peningkatan take rate, meskipun visibilitas laba masih menjadi perhatian investor. Hingga saat ini, tidak banyak perubahan signifikan pada target harga analis terbaru, namun konsensus cenderung menempatkan saham ini dalam kategori “wait and see” sambil memantau eksekusi strategi efisiensi. (investor)

About The Author