Aksi Borong Tambang Emas Dongkrak Prospek UNTR, Diversifikasi Jadi Mesin Pertumbuhan Baru di Tengah Volatilitas Komoditas

untr
  • Langkah akuisisi tambang emas dinilai mempertebal portofolio non-batubara UNTR dan memperkuat fundamental jangka menengah.
  • Sejumlah analis melihat ruang kenaikan harga saham masih terbuka meski risiko belanja modal dan eksekusi proyek tetap menjadi perhatian.
  • Investor kini fokus pada progres pengembangan tambang, arah harga emas global, serta strategi capex dan dividen perseroan.

Saham PT United Tractors Tbk (UNTR) mencuri perhatian pelaku pasar modal Indonesia setelah emiten alat berat dan pertambangan ini resmi menyelesaikan akuisisi tambang emas Doup di Sulawesi Utara yang bernilai sekitar USD540 juta atau setara dengan sekitar Rp 8,85 triliun melalui anak usahanya, PT Danusa Tambang Nusantara. Transaksi yang diselesaikan pada 11 Februari 2026 tersebut mengokohkan kendali UNTR atas 99,99 % saham PT Arafura Surya Alam (ASA), membuka babak baru diversifikasi bisnis di luar lini batubara dan alat berat yang selama ini menjadi tonggak utama pendapatan perseroan. (Indonesia Miner)

Langkah strategis tersebut dipandang analis sebagai katalis pertumbuhan jangka menengah hingga panjang, meskipun disertai risiko capex besar di tahap pengembangan tambang dan tantangan operasional yang melekat pada proyek pertambangan. “Pengembangan tambang dari tahap development hingga produksi komersial memerlukan belanja modal yang signifikan serta manajemen lingkungan yang ketat untuk menghindari isu ESG yang sensitif,” ujar seorang analis pasar modal kepada media lokal, menyoroti risiko volatilitas biaya infrastruktur dan tekanan regulasi di sektor pertambangan. (kontan)

Respons pasar atas berita akuisisi ini tercermin dalam rekomendasi analis dari sekuritas lokal yang memandang prospek saham UNTR tetap menarik. Beberapa rumah riset menyarankan rekomendasi add/beli saham UNTR dengan target harga yang direvisi menguat dari sebelumnya. Analis seperti Nafan merekomendasikan add dengan target harga Rp 30.950 per saham, sementara Wafi mempertahankan pandangan hold namun dengan target sekitar Rp 30.000 sebagai level wajar menengah. (kontan)

Sementara itu, riset dari OCBC Sekuritas melihat potensi upside tersisa di tengah upaya UNTR menyeimbangkan kontribusi pendapatan antara segmen batu bara dan non-batu bara menuju 2030, dan menempatkan target harga sekitar Rp 29.000, didukung neraca keuangan kuat dan potensi dividen yang menarik. (TradingView)

Konteks pasar yang lebih luas juga ikut mempengaruhi sentimen saham ini. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dalam beberapa sesi terakhir menunjukkan volatilitas seiring respons terhadap rilis data ekonomi domestik dan pergerakan indeks sektoral, terutama setelah sektor pertambangan mencatat koreksi sementara akibat isu izin operasi di beberapa wilayah. Investor juga mencermati dinamika global harga emas, yang cenderung menguat dalam beberapa bulan terakhir, memberikan sentimen positif terhadap saham dengan eksposur logam mulia. (idnfinancials)

About The Author