BRMS Buka Suara Soal Isu Penyegelan Lahan Tambang Emas di Palu, Analis Soroti Risiko dan Dampak ke IHSG

brm
  • PT Bumi Resources Minerals (BRMS) menegaskan bahwa penyegelan lahan tambang emas di Palu hanya menyasar area ilegal dan tidak mempengaruhi operasi produksi utama anak usaha, PT Citra Palu Minerals.
  • Analis tetap memberikan rekomendasi positif untuk BRMS dengan target harga di kisaran Rp1.275–Rp1.355, seiring ekspektasi peningkatan kapasitas produksi dan harga emas global yang kuat.
  • Investor mengawasi laporan keuangan kuartal I 2026, pergerakan harga emas, dan kebijakan pertambangan serta lingkungan sebagai katalis berikutnya bagi saham BRMS.

PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS) akhirnya mengeluarkan pernyataan resmi menanggapi berbagai pemberitaan yang menyebut bahwa konsesi tambang emas milik anak usahanya di Palu, Sulawesi Tengah, disegel oleh aparat penegak hukum. Manajemen perseroan menegaskan bahwa penyegelan yang dilakukan oleh Satuan Tugas Penertiban Kawasan Hutan (Satgas PKH) hanya menyasar satu titik pembukaan lahan tanpa izin yang dilakukan penambang liar, dan sama sekali tidak berdampak pada kegiatan produksi utama yang dilakukan anak usaha, PT Citra Palu Minerals (CPM), di area River Reef, Poboya. Operasi tambang emas terbuka tersebut tetap berjalan normal sesuai rencana perusahaan. (suara)

Direktur Utama BRMS, Agoes Projosasmito, melalui keterangannya menyebutkan bahwa area yang disegel sejatinya bukan merupakan bagian dari wilayah produksi aktif, sehingga kegiatan tambang emas dan rencana peningkatan kapasitas pabrik pengolahan yang sedang berlangsung dari 500 ton menjadi 2.000 ton bijih per hari akan tetap berlanjut sesuai jadwal, dengan target rampung pada Oktober 2026. Proyek pengembangan tambang bawah tanah juga direncanakan akan dimulai pada semester II 2027, yang diharapkan dapat meningkatkan volume produksi emas perusahaan secara signifikan di tahun-tahun mendatang. (investing)

Sejumlah analis pasar modal menilai klarifikasi ini penting, mengingat sentimen negatif terkait isu lingkungan dan izin usaha pertambangan sempat menekan harga saham pertambangan di Bursa Efek Indonesia (BEI) dalam beberapa pekan terakhir. Menurut riset yang dirilis pertengahan Januari 2026, saham BRMS sebelumnya direkomendasikan sebagai “speculative buy” oleh BRI Danareksa dan CGS International, dengan target harga jangka pendek di kisaran Rp1.275–Rp1.355 per saham, lebih tinggi dari estimasi konsensus analis yang menempatkan nilai wajar di sekitar Rp1.200. Meskipun demikian, rekomendasi ini mencerminkan ekspektasi pasar terhadap potensi kenaikan produksi dan kinerja fundamental BRMS di tengah harga emas yang relatif kuat secara global. (suara)

Namun konteks makro pasar modal Indonesia pada awal 2026 masih menunjukkan volatilitas. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) secara keseluruhan mencatat pelemahan dalam beberapa sesi terakhir, seiring dengan tekanan sentimen global dan domestik, termasuk kekhawatiran investor terkait prospek ekonomi Indonesia yang lebih luas setelah peringatan dari lembaga indeks MSCI dan penundaan review indeks oleh FTSE Russell, yang memperpanjang kekhawatiran tentang kualitas data free float emiten-emiten lokal. Indeks JKSE sempat mencatat penurunan lebih dari 0,6% dalam beberapa perdagangan terakhir, memperlihatkan respons defensif pasar terhadap risiko likuiditas dan sentimen global yang lebih berhati‑hati. (investing)

Di sisi komoditas, harga emas sebagai aset safe haven sempat mengalami tekanan dan koreksi turun dari level US$5.000 per ounce dalam beberapa hari terakhir, mengikuti indikator makroekonomi global seperti penguatan dolar AS dan ekspektasi kebijakan moneter yang lebih ketat, sehingga mempengaruhi prospek saham-saham tambang emas di BEI termasuk BRMS. (pintu)

About The Author