BUMI Jadi Top Stock Sepekan, Kuasai Perdagangan dan Melonjak 29% di Tengah Sentimen Korporasi

bumi
  • Saham BUMI melonjak 29% dalam sepekan dan menjadi top stock di BEI, mendominasi volume, nilai, dan frekuensi transaksi.
  • Sentimen positif dipicu aksi korporasi dan strategi pendanaan terbaru, di tengah pergerakan IHSG yang masih fluktuatif dan net sell asing.
  • Pelaku pasar menantikan katalis berikutnya seperti kinerja keuangan kuartalan, pergerakan harga batu bara global, dan potensi perubahan komposisi indeks.

Saham PT Bumi Resources Tbk (BUMI) kembali menjadi sorotan pelaku pasar modal Indonesia setelah mencatatkan performa fenomenal sepanjang pekan lalu, yang menjadikannya top stock di Bursa Efek Indonesia (BEI) baik dari sisi volume, nilai, maupun frekuensi transaksi. Data resmi BEI menunjukkan saham BUMI mencatat volume terbesar mencapai 50,27 miliar lembar saham atau 22,22% dari total volume bursa, nilai transaksi mencapai Rp13,32 triliun (11,49% pangsa pasar), dan frekuensi perdagangan menembus 875 ribu kali — bukti minat beli yang luar biasa kuat di tengah aksi pasar pekan ini. Dalam periode sama, harga saham melonjak 29,2% ke level Rp292 per saham, menyumbang 17,13 poin terhadap penguatan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). (RCTI)

Lonjakan ini datang di tengah kabar terbaru dari perseroan tentang penerbitan Obligasi Berkelanjutan I Tahap IV Tahun 2026 senilai Rp612,75 miliar yang ditawarkan pada bunga tetap 7,25% dan tenor tiga tahun, sebagai bagian dari strategi pendanaan berkelanjutan. Penerbitan obligasi ini mengikuti tiga tahap obligasi yang sudah dilakukan sepanjang 2025, menunjukkan upaya intensif BUMI dalam memperkuat struktur modal dan mendukung ekspansi usaha. (idxchannel)

Kinerja saham yang impresif terjadi meski IHSG pada penutupan Jumat (13/2/2026) terkoreksi 0,64% ke level 8.212,27. Secara mingguan, indeks tetap mencatatkan kenaikan 3,49%, dibayangi oleh net sell asing senilai Rp6,12 triliun di pasar reguler, mengindikasikan dinamika perdagangan yang masih kuat namun penuh volatilitas. (RCTI)

Pasar juga mencermati konteks aksi korporasi terkini yang memberi sinyal fundamental jangka menengah lebih menarik bagi BUMI. Tahun lalu, perseroan berhasil menyelesaikan akuisisi 100% Wolfram Limited, sebuah perusahaan tambang mineral asal Australia Barat, sebagai bagian dari strategi diversifikasi yang lebih luas di luar batu bara. Akuisisi ini, menurut laporan media internasional, menjadi pendorong sentimen positif karena memperluas portofolio usaha perusahaan ke komoditas lain dengan margin lebih tinggi. (Jakarta Globe)

Sejumlah analis juga sempat merekomendasikan saham BUMI dalam kerangka trading seiring dengan momentum teknikal yang kuat. Pada akhir November 2025, Tim Analis Bareksa bahkan memasukkan BUMI sebagai salah satu pilihan untuk trading buy, dengan target harga ambil untung di area yang lebih tinggi dari harga masuk pada saat itu. (Bareksa)

Walaupun konsensus target harga analis untuk saham BUMI masih beragam, termasuk dari riset sebelumnya yang menilai saham ini layak beli (buy) dengan target harga konservatif di kisaran Rp170 berdasarkan model valuasi diskonto arus kas, beberapa broker lokal juga menyebutkan target naik jangka pendek di area resistance psikologis sekitar angka Rp300 jika momentum transaksi berlanjut. (Samuel Sekuritas Indonesia)

Namun begitu, pelaku pasar perlu tetap memperhatikan risiko volatilitas dan sentimen jangka pendek. Aksi profit taking bisa muncul seiring harga mendekati level teknikal penting, apalagi dengan tekanan jual dari investor asing yang masih berlangsung di beberapa periode terakhir.

Melihat ke depan, para trader dan investor akan mengamati sejumlah katalis berikutnya yang diperkirakan bisa memicu momentum lanjutan untuk saham BUMI. Pertama, perkembangan hasil produksi batu bara dan harga komoditas global yang tetap menjadi faktor utama fundamental pendapatan perseroan. Kedua, kabar terkait kemungkinan peningkatan free float yang dapat mempengaruhi peluang BUMI masuk kembali dalam MSCI Index menjelang peninjauan indeks global Mei 2026. Ketiga, laporan keuangan kuartal pertama dan target produksi batu bara tahun ini juga bakal menjadi sorotan pasar untuk melihat seberapa jauh realisasi operasional mendukung ekspektasi pertumbuhan laba dan arus kas perusahaan di tengah tantangan harga komoditas. (Ajaib-Pilihan)

About The Author