Buyback Tuntas 16,37 Juta Saham, BNI Pamer Kenaikan PBV dan Sinyal Bullish Harga Saham

bni
  • BNI menuntaskan buyback 16,37 juta saham, mendorong kenaikan PBV dan memperkuat sentimen positif terhadap valuasi perseroan.
  • Harga saham BBNI menguat pasca-aksi korporasi, ditopang kepercayaan manajemen dan dukungan rekomendasi analis.
  • Pasar kini menanti katalis berikutnya, termasuk kinerja kuartalan dan arah kebijakan suku bunga Bank Indonesia.

PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) menyelesaikan program pembelian kembali saham (buyback) dengan total 16.377.700 lembar saham, menandai langkah penting dalam strategi pengelolaan modal dan penunjang kinerja harga saham di tengah sentimen pasar yang bergejolak. Pernyataan resmi perseroan yang dilaporkan melalui keterbukaan informasi di Bursa Efek Indonesia menunjukkan buyback dilakukan berdasarkan persetujuan Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan pada 26 Maret 2025 dengan alokasi dana maksimum Rp1,5 triliun. Program ini tidak hanya merefleksikan kepercayaan manajemen terhadap fundamental perseroan, tetapi juga berhasil mendongkrak indikator valuasi seperti rasio price to book value (PBV) dan harga saham BBNI sendiri. (kontan)

Corporate Secretary BNI Okki Rushartomo menyampaikan bahwa setelah buyback, PBV BBNI naik dari sekitar 0,98x pada periode awal aksi korporasi menjadi sekitar 1,01x per 4 Februari 2026 — level yang secara relatif lebih menarik di mata investor — sementara harga sahamnya tercatat mengalami penguatan dari Rp4.250 menjadi sekitar Rp4.630 per lembar. Pergerakan ini dinilai mencerminkan respon positif pasar atas stabilisasi valuasi yang dimotori oleh pembelian kembali saham dan persepsi bahwa langkah tersebut tidak mengganggu kegiatan operasional maupun pertumbuhan usaha perseroan. (kontan)

Dari sisi analis, konsensus pasar juga memberi gambaran bahwa saham BBNI masih menarik secara fundamental dan masih memiliki potensi penguatan harga dalam jangka menengah hingga panjang. Menurut data konsensus analis, mayoritas memberikan rekomendasi buy dengan target harga rata-rata sekitar Rp4.988 dalam 12 bulan ke depan, dengan estimasi tertinggi mencapai sekitar Rp5.700, menunjukkan potensi upside lebih dari 10% dibanding harga saat ini. Sebagian analis sekuritas bahkan menetapkan target yang lebih agresif, seperti Rp5.500 atau lebih, seiring ekspektasi pertumbuhan kredit dan accelerasi laba di 2026. (stockbit)

Sentimen pasar terhadap saham perbankan besar seperti BBNI juga mendapat dorongan dari dinamika Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang belakangan mengalami volatilitas seiring kebijakan suku bunga Bank Indonesia yang diputuskan tetap stabil pada level 4,75% untuk meredam tekanan mata uang rupiah dan menjaga momentum ekonomi domestik. Keputusan ini sedikit memberi tekanan pada saham perbankan secara umum, namun BBNI menunjukkan daya tahan relatif di tengah kondisi pasar yang tidak sepenuhnya kondusif. (Reuters)

Respons investor terhadap aksi buyback BNI juga sempat disorot pasar modal bersama dengan langkah korporasi lain seperti rencana buyback di emiten non-bank yang turut diumumkan beberapa pelaku pasar, meskipun skala dan implikasinya berbeda. Pergerakan saham bank besar kerap menjadi penentu arah sektor keuangan sekaligus indikator sentimen lebih luas terhadap pasar saham domestik, khususnya ketika ada berita korporasi besar yang diumumkan regulator. (Mureks)

About The Author