Drama di Pucuk Pimpinan GTSI: Ari Askhara Mundur Usai Dicecar BEI, Sentimen Pasar Kembali Bergejolak
- Ari Askhara resmi mengundurkan diri dari GTSI setelah rekam jejaknya menjadi sorotan dan pertanyaan dari BEI.
- Pengunduran diri ini memicu perhatian investor terhadap stabilitas manajemen dan tata kelola perseroan.
- Pasar kini menanti keputusan RUPSLB, susunan direksi baru, serta kinerja keuangan mendatang sebagai katalis berikutnya.
Dalam perkembangan terbaru di pasar modal Indonesia, I Gusti Ngurah Askhara alias Ari Askhara resmi mengundurkan diri dari jabatan Direktur Utama emiten pelayaran dan infrastruktur LNG PT GTS Internasional Tbk (GTSI) setelah hanya menjabat selama kurang lebih sebulan. Pengunduran diri ini dipublikasikan melalui keterbukaan informasi perseroan yang disampaikan kepada Bursa Efek Indonesia (BEI), yang menyebut surat pengunduran diri efektif sejak 12 Februari 2026 dan akan disahkan melalui RUPSLB pada 26 Februari mendatang. Selain Ari Askhara, Direktur GTSI lainnya, Dira K. Mochtar, juga menyatakan mundur atas dasar pertimbangan profesional. (idxchannel)
Keputusan mundur Ari Askhara ini dipandang sebagai respons atas sorotan tajam dari BEI mengenai rekam jejak dan latar belakangnya di dunia korporasi. Nama Ari pernah menjadi sorotan publik ketika ia menjabat sebagai Direktur Utama PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk dan terlibat dalam kontroversi penyelundupan barang mewah beberapa tahun lalu, yang memicu perdebatan luas di media dan di kalangan investor. (idxchannel)
Pergerakan saham GTSI pada perdagangan pekan ini mencerminkan dinamika sentimen pasar. Harga saham GTSI tercatat bergerak di sekitar Rp 330–344 per lembar, dengan rentang 52-minggu yang sangat volatil dari Rp 35 hingga Rp 520. Kapitalisasi pasar perseroan berada di kisaran Rp 5,4 triliun, sementara data fundamental menunjukkan earnings per share (EPS) yang masih belum signifikan. (investing)
Sejauh ini belum ada konsensus harga target (price target) dari analis pasar efek yang dipublikasikan secara luas untuk GTSI, sehingga sentimen terhadap saham ini lebih banyak ditentukan oleh faktor internal dan teknikal daripada rekomendasi formal analis. Data agregator pasar menunjukkan tidak adanya setidaknya konsensus analis terbaru yang memublikasi proyeksi atau rating resmi untuk GTSI, yang mengindikasikan kurangnya cakupan riset broker besar terhadap saham ini. (mlq)
Kabar mundurnya Ari Askhara dari GTSI muncul di tengah minggu yang penuh gejolak di pasar saham Indonesia, yang dipengaruhi oleh sejumlah berita makro dan kebijakan. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) beberapa hari terakhir menunjukkan fluktuasi seiring sentimen global yang berubah-ubah, termasuk tekanan regional pada pasar Asia dan volatilitas komoditas energi. Secara lebih luas, sejumlah saham juga mengalami tekanan likuiditas akibat penyebutan beberapa emiten lain yang ditangguhkan sementara oleh BEI karena belum memenuhi kewajiban listing fee. (IDN Financials)
Investor institusional pun mencermati pergerakan regulator, termasuk langkah OJK yang memperkenalkan paket reformasi pasar modal untuk meningkatkan tata kelola, transparansi dan standar free-float minimum, di tengah respons terhadap aksi jual besar yang sempat melanda bursa beberapa pekan lalu. (indonesiabusinesspots)