DRMA Targetkan Pendapatan Rp 6,5 Triliun di 2026, Hadapi Lesunya Industri Otomotif dengan Diversifikasi dan Ekspor

DRMA
  • DRMA menargetkan pendapatan Rp 6,5 triliun pada 2026 meski industri otomotif domestik masih lesu.
  • Strategi utama mencakup diversifikasi ke komponen kendaraan listrik dan peningkatan ekspor untuk menjaga pertumbuhan.
  • Analis mempertahankan rekomendasi positif dengan potensi kenaikan harga saham, sementara investor menanti rilis kinerja tahunan dan perkembangan insentif otomotif.

PT Dharma Polimetal Tbk (kode saham: DRMA) kembali menetapkan target ambisius untuk tahun buku 2026 dengan membidik pendapatan konsolidasi mencapai Rp 6,5 triliun, memperkuat strategi menghadapi kelesuan industri otomotif domestik sambil menegaskan upaya ekspansi ke segmen kendaraan listrik dan solusi energi baru. Target ini disampaikan manajemen perseroan dalam pernyataan resmi dan berbagai paparan publik beberapa waktu terakhir sebagai guidance update setelah laporan kinerja sembilan bulan 2025 yang menunjukkan pertumbuhan penjualan neto dan laba bersih yang masih positif di tengah tekanan pasar otomotif. (TradingView)

Manajemen DRMA, yang dipimpin Presiden Direktur Irianto Santoso, menegaskan bahwa proyeksi pendapatan tersebut didasarkan pada asumsi kondisi pasar otomotif nasional yang relatif stabil atau setidaknya tidak lebih buruk dibanding 2025, serta dukungan dari kontrak pasokan komponen untuk kendaraan listrik dan peningkatan volume ekspor. Di tengah tekanan penjualan kendaraan roda empat, perseroan secara aktif melakukan diversifikasi produk termasuk pengembangan komponen EV seperti baterai lithium dan Battery Energy Storage System (BESS), memperkuat portofolio di luar segmen tradisional komponen otomotif berbasis mesin pembakaran internal. (TradingView)

Data industri menunjukkan pasar otomotif nasional memang menghadapi tren yang menantang. Penjualan kendaraan secara wholesale sepanjang 2025 masih tertinggal dibandingkan 2024 dengan angka penjualan domestik yang melandai, termasuk dalam segmen mobil konvensional, seiring daya beli konsumen yang belum pulih sepenuhnya. Tren ini mencerminkan tekanan makro yang lebih luas yang turut mempengaruhi permintaan terhadap komponen otomotif lokal. (RCTI)

Secara korporasi, DRMA mencatatkan realisasi penjualan Rp 4,39 triliun hingga kuartal III-2025 dan laba bersih yang meningkat dibanding periode yang sama tahun sebelumnya, meskipun pertumbuhannya moderat. Angka ini menjadi basis bagi manajemen untuk menyusun target 2026, sekaligus menegaskan posisi perusahaan di tengah dinamika industri otomotif. (idxchannel)

Dari sisi pasar modal, konsensus analis terhadap saham DRMA relatif positif. Data dari lembaga pemeringkat dan agregator konsensus menunjukkan mayoritas analis institusional memberikan rekomendasi buy atau strong buy, dengan target harga rata-rata di kisaran Rp 1.300–Rp 1.376 dalam 12 bulan ke depan, dan potensi upside dari harga saat ini yang dibukukan di level sekitar Rp 1.030-an. Beberapa estimasi bahkan menunjukkan target tertinggi hingga Rp 1.700, mencerminkan ekspektasi pertumbuhan valuasi yang cukup kuat meskipun volatilitas industri tetap menjadi risiko. (investing)

Sentimen pasar yang lebih luas juga turut mewarnai pergerakan saham DRMA. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) bergerak fluktuatif dalam beberapa pekan terakhir, dipengaruhi oleh sentimen domestik dan global seperti arahan kebijakan moneter Bank Indonesia, kekhawatiran investor terhadap revisi indeks dari lembaga pemeringkat global, serta dinamika sektor otomotif yang masih beradaptasi dengan permintaan konsumen dan transisi ke teknologi baru. (PT.Kontan Grahanusa Mediatama)

About The Author