Emiten Milik The Ning King Raih Kontrak Rp220,69 Miliar dari J&T Cargo, Saham ARGO Reaksi Positif di Tengah Isu Korporasi dan Sentimen Pasar
Langkah ini datang di tengah dinamika korporasi yang lebih luas di ARGO, termasuk dampak atas kepergian The Ning King — pendiri dan pengendali utama bisnis — yang meninggal dunia pada November 2025, meninggalkan warisan grup bisnis yang luas termasuk di sektor tekstil dan properti.(CNBCIndonesia)
Berita kontrak J&T Cargo langsung memicu respons positif di pasar modal, dengan saham ARGO terkerek signifikan pada perdagangan hari ini setelah pengumuman kontrak. Dalam beberapa hari terakhir, saham ARGO telah menunjukkan pergerakan positif, mengikuti momentum berita dan pembicaraan pasar.
Meski demikian, saham ARGO memiliki riwayat volatilitas tinggi. Pada Juli 2025 saja, saham ini pernah mengalami pelonjakan lebih dari 200% dalam kurun waktu singkat hingga akhirnya disuspensi oleh BEI sebagai upaya perlindungan bagi investor setelah lonjakan harga kumulatif yang sangat signifikan.(kontan)
Dari sisi fundamental, data analisis menunjukkan bahwa ARGO masih menghadapi tantangan profitabilitas akibat beberapa kuartal dengan kerugian yang signifikan, termasuk di kuartal I 2025 di mana rugi komprehensif perusahaan membengkak hampir sembilan kali lipat meski pendapatan tumbuh.(WartaEkonomi)
Hingga saat ini belum ada rilis resmi dari sekuritas besar terkait target harga terbaru atau perubahan rekomendasi khusus untuk saham ARGO setelah kontrak dengan J&T Cargo diumumkan. Namun, dari tinjauan fundamental yang tersedia, saham ini masih dicirikan sebagai perusahaan dengan profitabilitas yang menantang dan rasio keuangan yang kurang kuat. Menurut analisis fundamental independen, ARGO belum mencetak laba positif dalam tiga tahun terakhir dan indikator seperti PER serta ROE menunjukkan tekanan terhadap prospek jangka menengah.(CariSaham)
Meski tidak ada konsensus terbaru terpublikasi dari analis pasar modal besar, dinamika harga saham ARGO di pasar dan sejarah pelaporan biasa menjadi sinyal bahwa banyak investor institusional dan ritel mengamati kontrak besar baru ini sebagai potensi catalyst yang bisa mempengaruhi revisi target harga atau rekomendasi di masa mendatang jika kontrak tersebut benar-benar meningkatkan revenue stream jangka panjang.
Pengumuman kontrak ini terjadi di tengah pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang masih bergejolak di awal tahun 2026, dengan fokus investor bergeser ke berita perusahaan yang memiliki kontrak bisnis jangka panjang dan stabil. Aktivitas sektor logistik juga tengah menjadi sorotan, terutama setelah J&T Express melaporkan lonjakan volume pengiriman global dan kontribusi kuat dari Indonesia sepanjang 2025, memperlihatkan momentum kuat dalam industri logistik domestik.(KoranJakarta)