EXCL Rugikan Rp4,4 Triliun Meski Pendapatan Tumbuh pada 2025; Analis Lihat Sisi Optimis di Tengah Tekanan Biaya

EXCL
  • EXCL membukukan rugi bersih Rp4,4 triliun pada 2025 meski pendapatan tumbuh dua digit, tertekan lonjakan beban operasional dan keuangan.
  • Analis mempertahankan pandangan beragam dengan target harga di kisaran Rp2.800–Rp3.100, mencerminkan ketidakpastian pasca-merger dan tekanan margin.
  • Pasar menanti realisasi sinergi merger, efisiensi biaya, serta kinerja kuartal I-2026 sebagai katalis pemulihan saham.

Saham PT XLSMART Telecom Sejahtera Tbk, emiten yang lebih dikenal sebagai EXCL, mencatatkan kinerja yang mengejutkan di tahun 2025. Dalam laporan keuangan tahunan yang dirilis perusahaan, EXCL mencatat rugi bersih yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk sebesar Rp4,42 triliun, berbalik dari laba bersih Rp1,81 triliun pada 2024, meskipun pendapatan tumbuh signifikan di periode yang sama. Pendapatan tahun 2025 mencapai sekitar Rp42,44 triliun, meningkat lebih dari 23% dibandingkan tahun sebelumnya. Pertumbuhan top line ini terutama didorong oleh segmen layanan GSM mobile dan jaringan telekomunikasi yang tetap menjadi kontributor utama, sementara layanan managed service dan teknologi informasi menunjukkan kontribusi yang lebih kecil namun positif. (investing)

Analis menyebutkan lonjakan beban operasional menjadi beban utama dalam membalikkan laba menjadi kerugian. Biaya penyusutan dan amortisasi naik tajam, beban infrastruktur serta beban gaji ikut melonjak, sementara beban keuangan meningkat seiring dengan pembengkakan liabilitas perusahaan. Selain itu, keuntungan dari penjualan serta kegiatan sewa-balik menara juga turun drastis dibanding periode sebelumnya, semakin menekan bottom line EXCL. (investing)

Sentimen pasar pun mencerminkan dinamika ini. Sementara beberapa analis masih melihat potensi jangka panjang, terdapat sejumlah penyesuaian rekomendasi investor dalam beberapa bulan terakhir. Data konsensus analis menunjukkan rata-rata target harga 12 bulan untuk saham EXCL berada di kisaran Rp3.115 sampai Rp3.185 per saham, namun dengan rentang estimasi yang lebar antara Rp1.600 hingga Rp4.500, mencerminkan ketidakpastian pasar terhadap prospek fundamental setelah rugi bersih 2025. Sementara beberapa analis mempertahankan pandangan Buy atau Neutral, ada juga broker yang menurunkan rating menjadi Hold dengan target harga sekitar Rp2.850–Rp3.100. (investing)

Tekanan laba bersih EXCL ini juga terjadi di tengah konsolidasi besar di sektor telekomunikasi nasional. Tahun lalu, perusahaan berhasil menyelesaikan proses merger strategis dengan Smartfren, membentuk entitas gabungan dengan skala pelanggan dan infrastruktur yang lebih besar. Integrasi pasca-merger diharapkan menciptakan sinergi biaya dalam jangka menengah, meskipun dalam jangka pendek menimbulkan biaya integrasi tambahan yang menekan kinerja bottom line. (kontan)

Dalam konteks pasar modal yang lebih luas, pergerakan saham EXCL juga dipengaruhi oleh kondisi pasar. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sempat mencatat fluktuasi volatil di sepanjang 2025, dengan beberapa periode koreksi yang dipicu oleh aksi jual investor asing serta kekhawatiran terhadap kondisi makro global, meskipun secara keseluruhan nilai transaksi dan kapitalisasi pasar tetap menunjukkan pertumbuhan dibanding tahun sebelumnya. (Antara News Jawa Timur)

Di sisi makro, perekonomian Indonesia tercatat terus tumbuh, dengan pertumbuhan ekonomi kuartal IV-2025 mencapai 5,39%, tertinggi sejak periode pascapandemi. Data ini menunjukkan permintaan domestik yang kuat dan fundamental ekonomi yang relatif solid, meskipun pelaku pasar tetap mencermati tekanan biaya dan dinamika tingkat suku bunga global. (infobanknews)

About The Author