Hypermart (MPPA) Catat Rugi Rp152 Miliar Sepanjang 2025 di Tengah Pergolakan Ritel dan Revisi Sentimen Analis
Manajemen MPPA menyatakan bahwa kenaikan rugi bersih sebagian besar dipicu oleh beban non-operasional, termasuk penghapusan pajak tangguhan dan biaya aktuaria program imbalan pasti, yang menekan angka bottom line meskipun kinerja operasional inti menunjukkan tren perbaikan. Pendapatan bersih perusahaan mencapai sekitar Rp7,25 triliun di 2025, naik sekitar 1,9 persen dari Rp7,12 triliun di tahun sebelumnya, sementara laba kotor tercatat meningkat 2,8 persen menjadi sekitar Rp1,27 triliun. Laba operasional positif hanya sekitar Rp26 miliar, turun dibandingkan 2024 karena peningkatan investasi untuk inisiatif strategis dan efisiensi rantai pasok yang tetap butuh biaya. (StockWatch)
Dalam konferensi pers dengan pemegang saham, CEO MPPA Adrian Suherman menegaskan bahwa hasil tahun 2025 mencerminkan proses transformasi yang masih berlangsung. MPPA melanjutkan program rebranding yang diluncurkan pada Agustus 2025 untuk memperkuat daya tarik merek dan relevansi produk di tengah perubahan preferensi konsumen. Suherman mengatakan respons awal terhadap inisiatif merek baru dan strategi merchandising menunjukkan keterlibatan pelanggan yang lebih baik, namun masih memerlukan waktu untuk berdampak signifikan pada profitabilitas jangka pendek. (idxchannel)
Pelaku pasar dan analis telah mencermati kondisi ini dengan hati-hati. Beberapa broker mengulas bahwa sentimen terhadap saham MPPA tetap hati-hati, dengan target harga yang umumnya konservatif dan rating yang cenderung netral hingga underperform, mencerminkan tekanan struktural profitabilitas di sektor ritel besar serta risiko hubungan secara makro terhadap daya beli konsumen. Data konsensus harga saham menunjukkan rentang 52-minggu yang relatif sempit dan valuasi yang rendah, sejalan dengan ekspektasi pasar bahwa pemulihan kinerja bisa memakan waktu lebih lama. (investing)
Kinerja MPPA yang negatif ini juga diamati dalam konteks yang lebih luas di pasar modal Indonesia. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sepanjang 2025 justru mencatat penguatan lebih dari 22 persen, didorong oleh lonjakan likuiditas investor domestik dan asing, serta pencapaian kapitalisasi pasar yang mencapai rekor tertinggi. Hal ini menandakan bahwa tekanan di saham-saham ritel tertentu seperti MPPA tidak sepenuhnya mencerminkan keseluruhan tren pasar yang masih positif. (infobanknews)