Kerugian Garuda Membengkak di 2025 Meski Disuntik Modal Rp23,7 Triliun, Pasar Tunggu Bukti Turnaround

corporate-company-single
  • Kerugian PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk melonjak tajam di 2025 meski telah menerima suntikan modal Rp23,7 triliun, mencerminkan tekanan operasional yang masih berat.
  • Analis menilai aksi korporasi membantu perbaikan struktur keuangan, namun risiko dilusi saham dan keberhasilan turnaround masih menjadi perhatian utama investor.
  • Pasar kini menunggu katalis lanjutan seperti eksekusi strategi transformasi, efisiensi biaya, dan pemulihan permintaan penerbangan sebagai penentu arah saham ke depan.

 

PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk (GIAA) kembali menjadi sorotan pelaku pasar setelah merilis kinerja keuangan terbaru yang menunjukkan tekanan masih berlanjut, bahkan setelah memperoleh suntikan modal jumbo dari PT Danantara Asset Management. Dalam laporan keuangan tahun buku 2025, maskapai pelat merah tersebut mencatatkan rugi bersih sekitar US$322,4 juta, melonjak tajam sekitar 4,5 kali lipat dibandingkan kerugian tahun sebelumnya. (idnfinancials)

Pelebaran kerugian ini terjadi di tengah penurunan pendapatan sekitar 5,85% secara tahunan menjadi US$3,21 miliar, mencerminkan lemahnya pemulihan bisnis penerbangan serta tekanan operasional yang masih tinggi. Sementara itu, beban operasional hanya turun tipis, menunjukkan upaya efisiensi belum cukup untuk mengimbangi pelemahan top line. Di sisi lain, beban keuangan meningkat hampir 10% menjadi lebih dari US$525 juta, menambah tekanan terhadap profitabilitas perseroan. (idnfinancials)

Kondisi tersebut terjadi meskipun Garuda telah menerima suntikan modal sebesar Rp23,7 triliun pada akhir 2025. Dana tersebut berasal dari Danantara melalui skema private placement dan konversi utang, yang sebelumnya diharapkan dapat memperbaiki struktur permodalan dan mendukung pemulihan operasional. Namun realisasi nilai investasi yang lebih kecil dari rencana awal—sekitar US$1,4 miliar dari target US$1,8 miliar—membuat ruang ekspansi perseroan menjadi terbatas, termasuk penyesuaian rencana penambahan armada. (idnfinancials)

Dari sisi analis, langkah penambahan modal ini dinilai sebagai katalis penting untuk menormalkan ekuitas yang sempat negatif dan menjaga kelangsungan usaha. Namun sejumlah rumah riset seperti Kiwoom Sekuritas menyoroti risiko dilusi besar serta potensi “overhang” saham baru di kisaran harga pelaksanaan Rp75, yang berpotensi menahan pergerakan saham dalam jangka pendek. Selain itu, keberhasilan turnaround sangat bergantung pada eksekusi manajemen, renegosiasi kewajiban, serta stabilitas harga avtur dan nilai tukar rupiah. (investing)

Di pasar saham, sentimen terhadap GIAA masih fluktuatif. Pada perdagangan terakhir, saham Garuda sempat melonjak sekitar 9,38% ke level Rp70, meski secara year-to-date masih terkoreksi lebih dari 28%. Pergerakan ini mencerminkan spekulasi jangka pendek investor terhadap potensi pemulihan, namun belum didukung oleh fundamental yang solid. (idnfinancials)

Secara lebih luas, pergerakan saham GIAA juga terjadi di tengah kondisi pasar yang cenderung berhati-hati. Bursa Asia menguat menjelang keputusan suku bunga global, sementara volatilitas nilai tukar dan harga energi masih menjadi faktor eksternal yang membayangi sektor transportasi. (idnfinancials)

About The Author