Kredit Tumbuh 11,9% di 2025, BBTN Pasang Target Lebih Rendah di 2026, Analis Revisi Target Harga di Tengah Arah Pasar yang Volatil
- BBTN mencatat pertumbuhan kredit 11,9% pada 2025, namun memasang target lebih konservatif 8–10% untuk 2026 di tengah tantangan makro dan biaya dana.
- Sejumlah analis mempertahankan rekomendasi beli dengan target harga di kisaran Rp1.300–Rp1.450, menilai valuasi masih menarik dan kualitas aset relatif terjaga.
- Pelaku pasar menanti katalis berikutnya seperti kinerja kuartal I/2026, arah suku bunga BI, serta perkembangan strategi ekspansi dan spin-off unit syariah.
PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk (BBTN) menutup tahun buku 2025 dengan pertumbuhan penyaluran kredit sebesar 11,9% secara tahunan, melampaui ekspektasi awal manajemen yang semula memproyeksikan kenaikan moderat di kisaran 7–9%. Laporan terbaru yang dipaparkan dalam Analyst Meeting perseroan pada 10 Februari 2026 menunjukkan realisasi pinjaman mencapai sekitar Rp400,6 triliun, dengan porsi terbesar masih berasal dari kredit perumahan yang menyumbang 82% dari total portofolio, sejalan dengan fokus bank pada bisnis KPR subsidi dan nonsubsidi. (Investing)
Namun, untuk tahun 2026 manajemen BBTN memilih langkah yang lebih hati-hati dengan memasang target pertumbuhan kredit yang lebih rendah, yaitu sekitar 8–10%. Penurunan target ini dinilai mencerminkan prospek makro yang lebih kompleks, kenaikan biaya dana dan tekanan suku bunga yang tetap relevan di tengah dinamika moneter global. Kinerja segmen lain juga bervariasi: kredit korporat mencatat lonjakan signifikan sekitar 70,7%, sedangkan kredit UMKM melalui skema KUR justru kontraksi. (Investing)
Dari sisi kualitas aset, rasio kredit bermasalah (NPL gross) tercatat stabil di 3,2%, mencerminkan disiplin manajemen risiko yang masih terjaga meski terjadi perlambatan di beberapa segmen. Di bawah target DPK, penghimpunan dana pihak ketiga tumbuh 14,6% sepanjang 2025, meski tanpa kontribusi tambahan setoran pemerintah angkanya turun menjadi sekitar 8,1%. Manajemen juga memproyeksikan pertumbuhan DPK yang lebih konservatif di 7–9% sepanjang 2026. (Investing)
Respons pasar terhadap laporan kinerja dan panduan manajemen menunjukkan sentimen yang relatif positif. Saham BBTN sempat menguat dan diperdagangkan menguat sekitar Rp1.295 per saham, dengan rata-rata target harga analis di sekitar Rp1.330 untuk periode 12 bulan dan estimasi tertinggi hingga Rp1.650, didukung oleh rekomendasi buy mayoritas analis pasar. (Investing)
Analis dari BNI Sekuritas baru-baru ini menaikkan rekomendasi saham BBTN menjadi Beli, sekaligus merevisi target harga ke Rp1.450 setelah melihat laba bersih dan pendapatan bunga bersih yang melampaui ekspektasi pasar pada 2025. Mereka menilai valuasi relatif masih menarik dengan price to book value yang kompetitif, khususnya di tengah diversifikasi lini produk dan arah pertumbuhan kredit yang lebih selektif. (Investing)
Sebelumnya, BRI Danareksa Sekuritas juga mempertahankan rekomendasi buy untuk BBTN dengan target harga Rp1.300, menyoroti potensi kenaikan margin bunga bersih dari program KUR perumahan tahun ini dan stabilnya rasio LDR bank. (Investing)
Konteks makro yang lebih luas turut membentuk sentimen pada saham perbankan, termasuk BBTN. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sempat mengalami volatilitas menjelang komentar lembaga pemeringkat internasional yang mengubah outlook kredit Indonesia menjadi negatif, sementara data pertumbuhan ekonomi domestik menunjukkan ekspansi yang tetap solid di atas ekspektasi. Pergerakan suku bunga Bank Indonesia dan kebijakan fiskal nasional juga akan tetap menjadi faktor penting. (Investing)