Krisis Likuiditas Berlanjut, Gagal Bayar Bunga Bikin Saham WIKA Tetap Terkunci Suspensi
- WIKA kembali gagal membayar bunga dan bagi hasil sukuk, sehingga BEI mempertahankan suspensi perdagangan sahamnya.
- Tekanan likuiditas dan proses restrukturisasi utang membuat analis tetap berhati-hati dengan rekomendasi cenderung negatif.
- Pasar menanti kepastian restrukturisasi dan dukungan proyek baru sebagai katalis pemulihan saham WIKA.
Bursa Efek Indonesia (BEI) secara resmi melanjutkan penghentian sementara perdagangan saham PT Wijaya Karya (Persero) Tbk (WIKA), menandai babak baru krisis kepercayaan investor terhadap emiten konstruksi pelat merah tersebut setelah perusahaan kembali gagal memenuhi kewajiban pembayaran bunga dan pendapatan bagi hasil sukuk yang dijadwalkan pada Februari 2026. Penghentian perdagangan ini diberlakukan sejak 18 Februari 2026 dan berlaku di seluruh pasar sampai ada pengumuman lebih lanjut dari BEI dalam rangka menjaga keterbukaan dan perlindungan investor, menyusul penundaan pembayaran bunga untuk sejumlah seri obligasi dan sukuk WIKA yang telah terjadi sebanyak lima kali. (suara)
Kondisi ini bukan kali pertama WIKA menghadapi tekanan besar terkait kewajiban utangnya. Perseroan sebelumnya sempat mengalami gagal bayar pokok sukuk berkelanjutan yang jatuh tempo pada November 2025, yang memicu suspensi awal atas perdagangan sahamnya. Penundaan berulang atas pembayaran bunga obligasi dan bagi hasil sukuk menimbulkan kekhawatiran pasar terhadap arus kas operasional WIKA yang masih tertahan, seiring upaya restrukturisasi utang yang sedang berjalan. (TradingView)
Dampak dari gagal bayar ini juga tercermin dalam persepsi analis. Konsensus terbaru menunjukkan rekomendasi saham WIKA masih berada di zona “Sell” atau netral, dengan sedikit analis yang menganjurkan pembelian, menggambarkan pandangan hati-hati terhadap saham ini di tengah prospek likuiditas yang ketat. Data konsensus target harga sebelumnya mencatat rentang target harga yang cukup lebar, mencerminkan ketidakpastian pasar terhadap pergerakan saham dalam jangka menengah hingga panjang. Selain itu, lembaga pemeringkat domestik telah menurunkan rating sejumlah instrumen utang WIKA menjadi kategori default (idD) dalam beberapa aksi penilaian terakhir, memperkuat sinyal risiko kredit yang membayangi perusahaan. (Pefindo)
Isu gagal bayar WIKA juga terjadi di saat sentimen pasar Indonesia menghadapi tekanan lebih luas. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sempat terkoreksi dalam beberapa pekan terakhir di tengah kekhawatiran terkait reformasi pasar modal dan ketidakpastian kebijakan domestik yang membuat investor global berhati-hati. Tekanan terhadap pasar saham ini sejalan dengan pandangan pelaku pasar bahwa volatilitas indeks masih akan tinggi menjelang kepastian kebijakan baru dari regulator dan otoritas pasar modal. (CNA)
Respons manajemen WIKA terhadap suspensi perdagangan saham sejauh ini berfokus pada penjelasan atas kondisi kas yang terbatas dan strategi restrukturisasi untuk memitigasi beban utang, namun detail konkret mengenai penyelesaian kewajiban bunga yang tertunda masih dinantikan investor. Upaya restrukturisasi termasuk rencana Master Restructuring Agreement (MRA) lanjutan pada tahun 2026 untuk meredam tekanan likuiditas perseroan menjadi salah satu fokus utama manajemen. (TradingView)