Laba TOWR Tumbuh 10,27% di 2025, Refinancing Utang dan Prospek 5G Jadi Sorotan Analis
Berdasarkan laporan keuangan dan keterbukaan informasi di Bursa Efek Indonesia, pertumbuhan laba tersebut ditopang oleh kenaikan pendapatan sebesar 4,64% menjadi Rp13,32 triliun. Segmen sewa menara tetap menjadi tulang punggung dengan kontribusi lebih dari 65% terhadap total pendapatan, mencerminkan kuatnya pendapatan berulang (recurring income) yang menjadi ciri khas bisnis TOWR. (IDN Financials)
Dalam perkembangan terbaru, perseroan juga memperpanjang fasilitas kredit hingga Rp500 miliar melalui anak usaha seperti Protelindo dan Iforte hingga Juni 2026. Langkah ini mencerminkan strategi refinancing yang bertujuan menjaga fleksibilitas likuiditas sekaligus mengoptimalkan biaya pendanaan di tengah tren suku bunga yang mulai melandai. (IDN Financials)
Dari sisi neraca, TOWR menunjukkan perbaikan kualitas keuangan. Liabilitas berhasil ditekan sekitar 14% menjadi Rp50,18 triliun, sementara ekuitas melonjak lebih dari 40% menjadi Rp27,08 triliun. Hal ini memberi ruang lebih besar bagi ekspansi sekaligus memperkuat profil leverage perusahaan di mata investor. (IDN Financials)
Sentimen positif terhadap saham TOWR juga tercermin dari pandangan analis. Bahana Sekuritas, misalnya, mempertahankan rekomendasi “buy” dengan target harga Rp640 per saham, mencerminkan keyakinan terhadap stabilitas arus kas dan potensi pertumbuhan jangka panjang. Sementara itu, sejumlah analis lain memperkirakan valuasi lebih tinggi di kisaran Rp700–Rp770, dengan katalis utama berasal dari ekspansi jaringan dan efisiensi biaya bunga. (TradingView)
Namun demikian, pergerakan saham TOWR tidak sepenuhnya lepas dari tekanan pasar. Secara year-to-date, saham ini sempat terkoreksi seiring volatilitas global dan perubahan strategi operator seluler. Di level makro, pasar keuangan juga dibayangi oleh lonjakan harga minyak dan ketidakpastian geopolitik yang memicu fluktuasi di pasar Asia dan Wall Street, sehingga membatasi ruang penguatan saham berbasis yield seperti TOWR. (Indo Premier)
Ke depan, pelaku pasar akan mencermati sejumlah katalis penting. Selain potensi penurunan suku bunga yang dapat menekan biaya bunga, permintaan baru dari ekspansi 5G dan fiberisasi jaringan diperkirakan menjadi pendorong utama pertumbuhan organik. Di sisi lain, keberhasilan monetisasi aset fiber dan layanan digital tambahan juga menjadi faktor yang dapat mendorong re-rating valuasi. (TradingView)