Lonjakan Laba BUKA Sarat Faktor Non Operasional, Analis Soroti Kualitas Kinerja
PT Bukalapak.com Tbk (BUKA) mencatatkan pembalikan kinerja yang signifikan sepanjang tahun buku 2025, seiring rilis laporan keuangan tahunan yang dipublikasikan melalui keterbukaan informasi Bursa Efek Indonesia. Emiten teknologi tersebut membukukan laba bersih sebesar Rp3,14 triliun, berbalik dari rugi Rp1,54 triliun pada tahun sebelumnya, sebuah lonjakan yang langsung menarik perhatian pelaku pasar dan analis. (Kabar Bursa)
Namun demikian, di balik lonjakan laba tersebut, kualitas pertumbuhan laba BUKA menjadi sorotan. Berdasarkan laporan keuangan dan analisis sejumlah pihak, peningkatan bottom line perseroan tidak sepenuhnya berasal dari perbaikan bisnis inti, melainkan didorong oleh faktor non operasional, khususnya dari pos keuntungan investasi. Sepanjang 2025, BUKA mencatat laba nilai investasi bersih sebesar Rp2,37 triliun, berbalik dari kerugian pada tahun sebelumnya, yang menjadi kontributor utama terhadap laba bersih perusahaan. (FAC Sekuritas)
Dari sisi operasional, Bukalapak memang menunjukkan perbaikan, antara lain melalui efisiensi biaya yang agresif dan perubahan strategi bisnis, termasuk penghentian penjualan produk fisik dan fokus pada produk virtual seperti voucher dan gaming. Langkah ini turut menekan beban operasional dan memperbaiki margin, meskipun pertumbuhan pendapatan masih didominasi segmen dengan margin relatif rendah. (IDN Financials)
Pendapatan perseroan tercatat tumbuh sekitar 46% secara tahunan menjadi Rp6,51 triliun, dengan kontribusi terbesar berasal dari segmen gaming yang melonjak signifikan. Meski demikian, beberapa segmen lain seperti online-to-offline dan ritel justru mengalami penurunan, mencerminkan transisi model bisnis yang masih berlangsung. (Databoks)
Sejumlah analis melihat bahwa meskipun perbaikan laba menjadi katalis positif jangka pendek bagi saham BUKA, keberlanjutan kinerja masih menjadi tanda tanya. Beberapa laporan riset menilai bahwa tanpa dukungan keuntungan investasi, profitabilitas inti BUKA masih relatif tipis. Oleh karena itu, rekomendasi terhadap saham ini cenderung berhati-hati, dengan sebagian analis mempertahankan rating netral sambil menunggu stabilisasi kinerja operasional dan monetisasi bisnis baru.
Di pasar, saham BUKA bergerak relatif stabil di kisaran Rp130–Rp135 pasca rilis laporan keuangan, mencerminkan sikap wait and see investor. Secara valuasi, saham ini diperdagangkan pada level price-to-earnings ratio yang rendah dibandingkan rata-rata industri, namun hal tersebut juga mencerminkan risiko kualitas laba dan ketidakpastian model bisnis ke depan. (IDN Financials)