Masuk Bisnis Pertambangan, Langkah Besar MEJA Tarik Perhatian Pasar Modal
Manajemen MEJA, dipimpin oleh Direktur Utama Richie Adrian Hartanto, menjelaskan kepada Bursa Efek Indonesia (BEI) bahwa nilai transaksi sebesar Rp1,6 triliun masih bersifat awal dan dapat berubah bergantung pada hasil penilaian independen oleh Kantor Jasa Penilai Publik (KJPP) yang tengah ditunjuk. Meski jumlahnya signifikan, manajemen menegaskan struktur pengendalian MEJA tidak akan berubah signifikan setelah akuisisi, dan proses penyelesaian tahap pertama ditargetkan rampung pada kuartal III 2026 melalui mekanisme share swap atau inbreng saham tanpa membebani likuiditas perusahaan. (itrade.cgsi)
Respon pasar terhadap rencana aksi korporasi ini memperlihatkan ketidakpastian. Saham MEJA terlihat masih berfluktuasi, diperdagangkan di sekitar kisaran harga Rp120-an dalam beberapa sesi terakhir menurut data terkini harga saham, menunjukkan tekanan jual yang masih melekat meski ada optimisme teknikal jangka pendek. Indikator teknikal terkini mencerminkan sinyal beli harian yang kuat berdasarkan beberapa indikator moving average dan MACD, meskipun sinyal jangka panjang masih netral hingga cenderung mixed. (TradingView)
Sampai saat ini data konsensus analis yang tersedia belum menunjukkan penetapan target harga atau rekomendasi resmi yang luas untuk saham MEJA. Meski begitu, sejumlah platform pasar modal menyebutkan bahwa beberapa analis mempertahankan pandangan positif dengan potensi upside di masa mendatang mengingat langkah ekspansi ke pertambangan dapat membuka aliran pendapatan baru dan meningkatkan valuasi jika produksi batu bara TCP terealisasi secara commercial scale. Namun, karena cakupan coverage analis terhadap MEJA masih terbatas, investor disarankan mempertimbangkan risiko volatilitas dan fundamental perusahaan yang relatif kecil dibandingkan perusahaan pertambangan besar lainnya di bursa. (fintel)
Langkah MEJA ini terjadi di tengah suasana pasar yang lebih luas di BEI, di mana beberapa saham energi dan komoditas menunjukkan pergerakan menarik seiring sentimen global terhadap permintaan energi dan kebijakan domestik yang berpotensi memengaruhi produksi batu bara nasional. Investor juga memperhatikan pergerakan indeks acuan yang bergerak dengan tren mixed akhir-akhir ini, dipengaruhi oleh data makro domestik dan eksternal yang terus berubah. (PT.Kontan Grahanusa Mediatama)