Merdeka Gold Resources Siap Produksi Emas Perdana di Februari 2026, Saham EMAS Jadi Fokus Investor
- Merdeka Gold Resources (EMAS) menargetkan produksi emas perdana dari proyek Pani pada Februari 2026, dengan progres konstruksi dan komisioning yang telah mendekati tahap akhir.
- Sejumlah analis mempertahankan rekomendasi positif terhadap EMAS meski terdapat variasi target harga, sementara sentimen juga didukung oleh pergerakan harga emas global dan tren saham komoditas di IHSG.
- Pelaku pasar kini menantikan realisasi produksi awal, persetujuan RKAB 2026, serta pembaruan kinerja operasional sebagai katalis utama pergerakan saham ke depan.
PT Merdeka Gold Resources Tbk (EMAS) mengumumkan kesiapan untuk memulai produksi emas perdana di Februari 2026 dari tambang emas Pani di Gorontalo, menandai tonggak penting bagi perusahaan yang baru mencatatkan sahamnya di Bursa Efek Indonesia (BEI) sejak September 2025. Menurut siaran pers resmi perusahaan, progres komisioning dan penyelesaian empat bay di tambang telah mencapai 68,6 % per Januari 2026, dengan bay 2 ditargetkan menjadi lokasi pemroduksi emas pertama setelah progres penyelesaian menyentuh sekitar 90 %. Pekerjaan sipil proyek juga telah mencapai lebih dari 92 %, sedangkan operasi komersial tercatat sekitar 40 % per awal tahun ini.(IDNFinancials)
Proyek Pani sendiri merupakan bagian dari strategi Merdeka Group untuk memperluas portofolio produksi emas nasional. EMAS menargetkan output tahunan 110 ribu–115 ribu ons emas sepanjang 2026, sementara induknya, PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA), mengejar tambahan 80 ribu–90 ribu ons emas dari operasi Tujuh Bukit, meskipun target ini masih menunggu persetujuan RKAB dari regulator.(IDNFinancials)
Reaksi pasar terhadap berita produksi perdana ini terlihat pada pergerakan saham EMAS di BEI. Berdasarkan data perdagangan terbaru, saham EMAS diperdagangkan di kisaran lebih dari Rp 7.000 per saham pada pekan ini, menunjukkan volatilitas namun tetap menarik minat investor di tengah berita positif proyek Pani.(IDNFinancials)
Di sisi analis, meskipun data konsensus menunjukkan rating “Strong Buy” dari sejumlah analis yang menutupi EMAS, target harga rata-rata analis dalam 12 bulan ke depan relatif lebih rendah dibanding harga pasar saat ini, dengan perkiraan target margin antara sekitar Rp 5.200 sampai Rp 6.100 per saham. Hal ini mencerminkan ekspektasi nilai saham yang cukup beragam meskipun didukung fundamental proyek produksi emas, serta kemungkinan downside dari target analis tersebut.(investing)
Beberapa rumah riset sebelumnya juga merilis rekomendasi positif terhadap saham EMAS saat masih dalam fase awal IPO dan pengembangan tambang, termasuk rekomendasi Buy dari Indo Premier Sekuritas dengan target Rp 5.300 per saham berdasarkan model DCF yang mempertimbangkan pertumbuhan produksi dan proyeksi margin biaya rendah di tambang Pani.(indopremier)
Pergerakan saham EMAS juga tidak lepas dari dinamika pasar yang lebih luas. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sempat menunjukkan potensi penguatan pada perdagangan awal tahun ini, dengan sejumlah analis merekomendasikan saham-saham komoditas, termasuk saham emas, sebagai posisi buy on weakness karena sinyal teknikal yang masih positif meskipun pasar menghadapi risiko volatilitas jangka pendek.(infobanknews)
Harga emas dunia, sebagai katalis eksternal, juga menjadi faktor penting yang mendukung sentimen emiten emas di BEI secara umum. Meski sempat mengalami fluktuasi, harga emas global masih menjadi aset yang menarik di tengah ketidakpastian ekonomi makro, yang berpotensi meningkatkan daya tarik saham sektor emas.(bloombergtechnoz)