Peluang Saham ICBP di Tengah Tekanan Daya Beli, Analis Tetap Rekomendasikan Buy Jelang Rilis Kinerja 2026

a47a48fc-6753-41f8-83f4-4231ff311843_169
  • Saham PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk masih tertekan isu daya beli dan biaya bahan baku, namun valuasi dinilai sudah menarik oleh analis.
  • Mayoritas analis mempertahankan rating “buy” dengan target harga di kisaran Rp12.000–Rp12.600, mencerminkan potensi upside signifikan.
  • Katalis utama ke depan adalah rilis kinerja terbaru, pergerakan harga komoditas, dan tanda-tanda pemulihan konsumsi domestik.

Saham PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk (ICBP) kembali menjadi sorotan pasar menjelang rilis laporan keuangan terbaru, di tengah kombinasi tekanan daya beli masyarakat dan fluktuasi harga bahan baku yang masih menjadi tantangan utama sektor konsumer. Meski demikian, sejumlah analis tetap melihat adanya peluang menarik bagi investor, terutama dengan valuasi yang dinilai sudah cukup terdiskon.

Dalam beberapa pekan terakhir, harga saham ICBP bergerak di kisaran Rp7.200–Rp7.500, mencerminkan tekanan jual yang masih cukup kuat seiring pelemahan konsumsi domestik dan sentimen pasar yang cenderung risk-off. Penurunan ini juga terjadi di tengah tren pelemahan lebih luas di Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG), yang sempat mengalami volatilitas akibat faktor global seperti pergerakan suku bunga dan nilai tukar. (investing)

Namun di balik tekanan jangka pendek tersebut, rumah riset tetap mempertahankan pandangan positif terhadap prospek jangka menengah ICBP. Indo Premier Sekuritas, misalnya, baru-baru ini menegaskan rekomendasi “buy” dengan target harga Rp12.600 per saham, mencerminkan potensi kenaikan yang signifikan dari level saat ini. Mandiri Sekuritas juga mempertahankan rating serupa dengan target harga Rp12.000, menunjukkan keyakinan terhadap pemulihan margin dan pertumbuhan volume ke depan. (Indo Premier)

Secara konsensus, target harga analis berada di kisaran Rp11.700 dengan mayoritas rekomendasi “buy”, menandakan adanya upside lebih dari 50% dari harga pasar saat ini. Beberapa analis bahkan memberikan target lebih optimistis hingga Rp12.800, terutama jika pemulihan konsumsi domestik berjalan lebih cepat dari ekspektasi. (Trading View)

Dari sisi fundamental, tekanan biaya bahan baku seperti gandum dan minyak sawit memang sempat membebani margin dalam beberapa periode terakhir. Namun, prospek ke depan dinilai mulai membaik seiring stabilisasi harga komoditas dan potensi efisiensi operasional. Pendapatan ICBP diproyeksikan tumbuh sekitar 6% pada 2026 dengan laba inti meningkat lebih dari 7%, menandai fase pemulihan setelah periode yang menantang. (brids)

Selain itu, diversifikasi geografis melalui ekspor juga menjadi penopang penting di tengah lemahnya daya beli domestik. Analis menilai kontribusi pasar luar negeri akan semakin relevan dalam menjaga pertumbuhan, terutama jika kondisi ekonomi global tetap stabil. (TradingView)

Meski demikian, risiko tetap membayangi. Pelemahan konsumsi rumah tangga, volatilitas nilai tukar rupiah, serta potensi kenaikan harga bahan baku masih dapat menekan margin dalam jangka pendek. Secara teknikal, saham ini juga masih berada dalam tren turun, meski indikator mulai menunjukkan kondisi oversold yang membuka peluang rebound terbatas. (Bareksa)

About The Author