Pengendali Baru Surya Permata Andalan (NATO) Gelontorkan Tender Wajib, Harga Rp183 Per Lembar Menjadi Sorotan
- Pengendali baru PT Surya Permata Andalan Tbk (NATO) melalui PT Mercury Strategic Indonesia menggelar penawaran tender wajib di harga Rp183 per saham, pasca perubahan pengendalian.
- Nilai tender mencapai sekitar Rp1 triliun lebih, dengan periode penawaran hingga 20 Maret 2026, sesuai keterbukaan informasi dan ketentuan OJK.
- Pelaku pasar kini menanti hasil akhir tender serta strategi lanjutan pengendali baru yang berpotensi memengaruhi arah saham NATO ke depan.
Saham emiten properti dan perhotelan PT Surya Permata Andalan Tbk (kode saham NATO) kembali menjadi fokus pelaku pasar setelah pengendali baru, PT Mercury Strategic Indonesia, secara resmi mengumumkan pelaksanaan penawaran tender wajib (mandatory tender offer/MTO) senilai hingga lebih dari Rp1 triliun. Aksi korporasi ini, yang diumumkan melalui keterbukaan informasi di Bursa Efek Indonesia, merupakan kelanjutan dari perubahan pengendalian yang terjadi akhir tahun lalu. (PT.Kontan Grahanusa Mediatama)
Penawaran tender wajib mencakup sebanyak-banyaknya 5.851.111.504 saham atau sekitar 73,129% dari seluruh modal ditempatkan dan disetor penuh emiten tersebut, dengan harga penawaran ditetapkan sebesar Rp183 per saham. Harga ini ditetapkan lebih tinggi dari rata-rata harga tertinggi perdagangan harian saham NATO di BEI selama 90 hari terakhir sebelum pengumuman, yang berada di kisaran Rp162,38 per saham. (PT.Kontan Grahanusa Mediatama)
Langkah ini merupakan kewajiban sesuai ketentuan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) atas pengambilalihan perusahaan terbuka setelah Mercury Strategic pada 12 Desember 2025 lalu menyelesaikan akuisisi 2,15 miliar saham atau sekitar 26,871% dari perseroan—transaksi yang menandai perubahan pengendalian langsung dari pemegang saham sebelumnya ke Mercury Strategic. (Emiten News)
Dalam prospektus singkatnya, Mercury Strategic menjelaskan bahwa dana untuk aksi korporasi ini sepenuhnya berasal dari kas internal pengendali baru dan mencerminkan komitmen untuk menyelesaikan tender di harga yang adil bagi pemegang saham minoritas. Periode penawaran tender wajib sendiri berlangsung mulai 19 Februari hingga 20 Maret 2026, dengan tanggal pembayaran direncanakan pada 30 Maret 2026. (BCA Sekuritas)
Respons pasar terhadap aksi ini cukup dinamis. Harga saham NATO telah mengalami tekanan volatilitas menjelang dan setelah pengumuman, tercatat dalam beberapa hari terakhir bergerak di kisaran Rp650–Rp780 per lembar dengan tren mingguan 52 minggu mencatat level tertinggi di sekitar Rp1.100 dan terendah Rp123, mencerminkan dinamika perdagangan yang cukup fluktuatif akibat sentimen aksi korporasi. (Investing)
Sementara itu, aneka rating dan target price dari analis masih minim dipublikasikan secara luas. Namun dari data teknikal yang tersedia, saham NATO berada dalam status netral menurut indikator rata-rata bergerak jangka pendek hingga menengah, walaupun beberapa sumber menyebut sinyal teknikal harian dan mingguan menunjukkan campuran buy dan sell yang mencerminkan ketidakpastian investor menjelang dan selama masa tender. (investing)
Kondisi pasar yang lebih luas pun turut memberi konteks terhadap pergerakan saham NATO. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada perdagangan awal Februari sempat mencatat penguatan signifikan, naik hampir 2% dalam satu sesi pasar, didorong oleh dorongan sektor energi dan industri serta aktivitas transaksi yang tinggi di sejumlah saham lapis kedua. Dalam sesi tersebut, saham NATO sendiri sempat mencatat koreksi signifikan, mencerminkan reaksi pasar terhadap ketidakpastian aksi tender dan valuasi perusahaan. (investing)
Trader dan investor kini akan memantau beberapa katalis berikutnya yang diperkirakan akan mempengaruhi sentimen pasar NATO. Penutupan masa tender wajib pada 20 Maret 2026 menjadi momen penting, karena hasil akseptasi pemegang saham minoritas terhadap penawaran ini akan mencerminkan tingkat kepercayaan terhadap strategi pengendali baru. Selain itu, perkembangan kemungkinan delisting atau rencana jangka panjang Mercury Strategic untuk mengubah struktur modal dan operasional perseroan bisa menjadi faktor penentu arah harga saham ke depan. (BCA Sekuritas)