Penjualan Ambruk 80%, POLY Terancam PKPU dan Masa Depan Bisnis Kian Dipertanyakan

POLY
  • Penjualan PT Asia Pacific Fibers Tbk (POLY) dilaporkan anjlok hingga 80%, mencerminkan tekanan berat pada kinerja operasional dan arus kas perseroan.
  • Emiten tekstil tersebut menghadapi gugatan PKPU dari salah satu pemegang sahamnya sendiri, menambah risiko hukum dan ketidakpastian restrukturisasi utang.
  • Pelaku pasar kini menanti putusan pengadilan serta rilis laporan keuangan berikutnya sebagai katalis utama arah pergerakan saham POLY.

Saham emiten tekstil PT Asia Pacific Fibers Tbk (POLY) kembali menjadi sorotan tajam pasar modal Indonesia setelah laporan penjualan perusahaan yang disebut merosot hingga 80% memicu gelombang kekhawatiran di kalangan pelaku pasar. Kondisi fundamental yang memudar ini diperburuk oleh gugatan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang (PKPU) yang diajukan oleh salah satu pemegang saham minoritas, menambah tekanan terhadap harga saham yang sudah sejak lama berjuang untuk pulih. (Kontan)

Data terbaru menunjukkan bahwa pertumbuhan penjualan POLY jatuh drastis, dengan utilisasi pabrik tersisa hanya sekitar 30% di salah satu fasilitas produksinya di Kaliwungu, Kendal. Kondisi ini merefleksikan tekanan tajam yang dialami bisnis serat sintetis di tengah persaingan global dan struktur biaya yang kurang kompetitif. Gugatan PKPU oleh PT Multikarsa Investama, pemegang sekitar 5,26% saham POLY, menambah sentimen negatif di tengah minimnya harapan pasar terhadap perbaikan kinerja jangka pendek. (Kontan)

Di lantai Bursa Efek Indonesia, saham POLY diperdagangkan pada level rendah akhir-akhir ini, mencerminkan sentimen pasar yang lesu terhadap emiten. Menurut data Investing.com per hari ini, harga saham POLY berada di Rp37 per lembar, jauh di bawah titik tertinggi dalam 52 minggu terakhir, dan mencerminkan volatilitas tinggi di tengah tantangan industri. (investing)

Beberapa analis pasar modal telah meninjau ulang posisi mereka terhadap POLY, meskipun cakupan riset oleh broker besar masih sangat terbatas. Data agregator analisis menunjukkan bahwa saat ini kurang ada rekomendasi buy dari analis profesional yang mencakup target harga jangka menengah untuk saham ini, suatu indikasi bahwa kepercayaan terhadap prospek fundamental POLY masih rapuh. Simply Wall St mencatat bahwa saham POLY memiliki valuasi yang dipandang sangat jauh di bawah perkiraan nilai wajar model tertentu, tetapi kurangnya konsensus analis membuat pandangan harga target tidak begitu tajam. (Simply Wall St)

Kinerja POLY ini terjadi di tengah dinamika lebih luas di pasar modal Indonesia. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) selama beberapa pekan terakhir menunjukkan gejolak sentiment — mencatat beberapa sesi penguatan namun juga penurunan tajam akibat kekhawatiran global dan domestik tentang transparansi pasar serta potensi downgrade dari lembaga pemeringkat internasional. Kondisi makro ini turut memengaruhi saham-saham dengan fundamental yang lemah seperti POLY, di mana para investor cenderung mengalihkan modal ke saham yang dianggap lebih defensif. (FXStreet)

Temporal tekanan di sektor tekstil mengingatkan kembali pada tren penurunan penjualan dan utilisasi pabrik yang dialami oleh perusahaan sejenis dalam beberapa tahun terakhir. Sebelumnya pada 2024, proyeksi penurunan penjualan POLY sempat diperkirakan sekitar 35,33% menurut laporan media keuangan, disebabkan oleh tingginya kelebihan kapasitas global dan impor produk jadi yang murah. (investing)

About The Author