Progres Pabrik Baru Chandra Asri (TPIA) Capai 50%, Sentimen Analis dan Arah IHSG Jadi Fokus Investor
- Progres pembangunan pabrik CA-EDC milik TPIA telah mencapai 50% dan ditargetkan mulai beroperasi komersial pada kuartal I 2027.
- Proyek ini diharapkan mengurangi impor soda kaustik secara signifikan dan menambah potensi devisa dari ekspor EDC, di tengah aksi buyback Rp2 triliun yang sedang berjalan.
- Analis masih cenderung berhati-hati terhadap saham TPIA, sementara investor menanti kinerja kuartalan dan perkembangan harga petrokimia global sebagai katalis berikutnya.
Progres pembangunan pabrik Chlor Alkali & Ethylene Dichloride (CA-EDC) milik PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA) dilaporkan telah mencapai 50% secara fisik, menandai masuknya proyek strategis ini ke fase puncak konstruksi di kawasan industri Cilegon, Banten. Pencapaian separuh perjalanan ini diumumkan manajemen melalui keterbukaan informasi resmi dan disampaikan oleh Presiden Direktur & CEO Erwin Ciputra, yang menegaskan bahwa proyek ini merupakan bagian dari inisiatif perusahaan untuk memperkuat hilirisasi industri kimia domestik dan meningkatkan kemandirian pasokan bahan baku industri dasar di Indonesia. (Chandra Asri)
Sejumlah pekerjaan inti telah diselesaikan, termasuk pemasangan struktur utama pabrik, instalasi jaringan perpipaan, dan persiapan koneksi kelistrikan untuk memacu kesiapan operasional fasilitas yang direncanakan mulai beroperasi secara komersial pada kuartal I 2027. Pabrik CA-EDC ini akan memiliki kapasitas produksi tahunan yang besar, yakni hingga 827.000 ton soda kaustik serta 500.000 ton Ethylene Dichloride (EDC). Selain dapat menggantikan kebutuhan impor soda kaustik hingga lebih dari 800 ribu ton per tahun, fasilitas ini juga diharapkan menjadi andalan ekspor EDC dengan potensi devisa sekitar USD 300 juta per tahun. (investing)
Pencapaian progres 50% ini datang di tengah upaya Chandra Asri untuk menyelesaikan berbagai inisiatif strategisnya. Salah satu yang menjadi sorotan pasar adalah program buyback saham senilai Rp2 triliun yang diluncurkan awal Februari lalu, di mana perusahaan menargetkan pembelian kembali saham sebanyak 250 juta lembar untuk meningkatkan likuiditas dan menyokong harga pasar. Aksi korporasi ini sempat mendapat perhatian investor karena menunjukkan kepercayaan manajemen terhadap valuasi saham di harga yang relatif rendah saat ini. (pintarsaham)
Namun demikian, prospek saham TPIA di mata analis masih beragam dan cenderung hati-hati. Data konsensus analis terbaru menunjukkan rating mayoritas “Sell” dengan target harga rata-rata di kisaran IDR4.700-an untuk 12 bulan mendatang, meskipun terdapat estimasi tertinggi hingga sekitar IDR10.600. Konsensus tersebut mencerminkan pandangan pasar yang melihat risiko downside dari valuasi saat ini dibanding harga pasar yang bergerak di sekitar level IDR6.700. (investing)
Sementara itu, sejumlah analis independen di komunitas pasar modal juga sempat merekomendasikan target harga lebih optimistis di area Rp8.000-Rp9.200, menimbang dampak positif realisasi proyek CA-EDC dan integrasi aset global yang tengah dikembangkan perusahaan. Namun rekomendasi ini lebih bersifat jangka menengah ke panjang, dengan catatan investor harus memperhatikan volatilitas harga bahan baku serta dinamika permintaan global di industri petrokimia. (stockbit)