Rights Issue 1 Miliar Saham, Saranacentral (BAJA) Siapkan Jurus Bersih-Bersih Utang Rp 445 Miliar di Tengah Tekanan Sektor Baja

baja3
  • PT Saranacentral Bajatama Tbk (BAJA) berencana menerbitkan 1 miliar saham baru melalui rights issue untuk melunasi utang Rp 445 miliar kepada pihak terafiliasi.
  • Dana hasil aksi korporasi akan digunakan untuk memperbaiki struktur permodalan dan menghentikan beban bunga, sehingga neraca perseroan menjadi lebih sehat.
  • Investor kini menanti persetujuan RUPSLB, detail harga pelaksanaan rights issue, serta kinerja keuangan berikutnya sebagai katalis pergerakan saham BAJA.

PT Saranacentral Bajatama Tbk, emiten produk baja yang tercatat di Bursa Efek Indonesia dengan kode saham BAJA, kembali menjadi sorotan pasar modal menyusul pengumuman rencana aksi korporasi strategis berupa Penambahan Modal dengan Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (rights issue). Perseroan mengumumkan akan menerbitkan sebanyak-banyaknya 1 miliar saham baru dalam rights issue yang dirancang untuk menyelesaikan utang pokok dan bunga kepada pihak terafiliasi sebesar total Rp 445,34 miliar serta menambah modal kerja, langkah yang dianggap penting untuk memperbaiki struktur permodalan dan menjaga keberlanjutan usaha. (emitennews)

Dalam keterbukaan informasi yang disampaikan kepada publik, manajemen BAJA menjelaskan bahwa dana hasil rights issue, setelah dikurangi biaya emisi, akan dipakai untuk menyelesaikan utang pokok sebesar Rp 317,56 miliar dan bunga sebesar Rp 127,77 miliar kepada PT Sarana Steel, yang berasal dari perjanjian kredit senilai USD 20,6 juta yang telah beberapa kali diperpanjang sejak 2011. Skema penyelesaiannya akan melibatkan konversi utang menjadi saham baru, yang juga akan dibarengi dengan penghentian perhitungan bunga sejak tanggal penyepakatan pada 19 Februari 2026 hingga proses konversi selesai. Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) dijadwalkan digelar pada 31 Maret 2026 untuk meminta persetujuan pemegang saham sebelum masuk ke proses pendaftaran ke Otoritas Jasa Keuangan (OJK). (emitennews)

Respons pasar terhadap berita rights issue ini tampak tercermin dalam pergerakan harga saham BAJA di sesi perdagangan terbaru. Menurut data real-time, saham BAJA memperlihatkan lonjakan harga yang cukup signifikan, mencatat perdagangan di level sekitar Rp 168 per saham, meningkat dari penutupan sebelumnya dan memperlihatkan volatilitas kuat dalam beberapa hari terakhir. Rentang 52-minggu menunjukan fluktuasi yang luas, menunjukkan reaksi pasar yang intens terhadap berita korporasi dan sentimen fundamental. (investing)

Namun, dari perspektif analis institusional, cakupan riset dan rating terhadap BAJA terbilang minim. Hingga saat ini, tidak tercatat adanya target harga median atau rekomendasi yang dipublikasikan oleh lembaga pemeringkat besar untuk saham ini, mencerminkan investor institusi mungkin masih selektif memantau saham di sektor baja yang menghadapi tekanan margin dan volatilitas permintaan. Beberapa laporan independen menggambarkan fundamental BAJA menunjukkan kinerja keuangan yang menantang dalam beberapa periode terakhir, termasuk laba negatif dan rasio profitabilitas yang perlu perbaikan, sehingga rights issue dipandang sebagai upaya menyelamatkan neraca daripada mendorong ekspansi agresif. (Cari Saham)

Mengamati dinamika pasar yang lebih luas, sektor saham secara keseluruhan menunjukkan kekuatan mixed pada sesi perdagangan kemarin, dimana capital inflow masih mengalir ke beberapa instrumen keuangan lain meski aliran modal asing tercatat net outflow di pasar saham domestik sementara modal tetap masuk ke instrumen seperti surat berharga oleh Bank Indonesia. Hal ini mencerminkan sikap selektif investor dalam memilih saham-saham dengan profil risiko yang lebih rendah di tengah kondisi makro ekonomi global yang belum stabil. (katadata)

Ke depan, para pelaku pasar dan trader bakal mencermati sejumlah katalis penting yang dapat mempengaruhi arah harga saham BAJA. Kalender korporasi mencakup putusan RUPSLB pada 31 Maret 2026, pengumuman harga pelaksanaan dan fraksi rights issue dalam prospektus, serta proses efektif masuknya rights issue yang direncanakan sekitar 7 Agustus 2026. Selain itu, pengumuman kinerja kuartal pertama 2026 dan update permintaan baja di pasar domestik akan menjadi faktor kunci dalam penilaian investor terhadap prospek fundamental BAJA. (emitennews)

About The Author