Saham DSSA Melandai Setelah Dua Pekan Umumkan Stock Split, Analis Soroti Sentimen Pasar dan Prospek Ke Depan
- Saham DSSA melandai setelah dua pekan mengumumkan stock split 1:25 meski awalnya memicu minat investor.
- Analis tetap memberikan rekomendasi buy dengan target harga Rp150.000 per saham, menyoroti potensi jangka menengah dari diversifikasi bisnis dan pertumbuhan digital.
- Investor kini menantikan keputusan RUPSLB, laporan kuartalan, dan pergerakan harga komoditas energi sebagai katalis utama arah saham DSSA selanjutnya.
Saham PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) di Bursa Efek Indonesia (BEI) menunjukkan tren penurunan dalam beberapa sesi terakhir, menyusul gelombang aksi ambil untung setelah pengumuman rencana stock split yang dirilis dua minggu lalu. Pengumuman aksi korporasi tersebut sempat mengerek minat pasar awalnya karena potensi peningkatan likuiditas dan basis investor yang lebih luas, namun sejak itu tekanan jual kembali mendominasi perdagangan saham yang masuk dalam jajaran saham berkapitalisasi besar di indeks BEI. (BCA Sekuritas)
DSSA mengumumkan rencana stock split dengan rasio 1:25 sebagai bagian dari upaya memperbaiki likuiditas dan menjadikan sahamnya lebih terjangkau oleh pelaku pasar ritel. Dalam keterbukaan informasi kepada BEI, manajemen menegaskan bahwa pemecahan saham ini tidak mengubah struktur kepemilikan atau nilai ekonomi per pemegang saham, namun diharapkan mampu menarik volume transaksi yang lebih tinggi setelah harga saham disesuaikan. Persetujuan pemegang saham untuk langkah ini dijadwalkan dalam RUPSLB pada Maret 2026 dan, jika disetujui, stock split akan efektif pada April 2026. (BCA Sekuritas)
Namun sejak pengumuman itu, harga DSSA cenderung melandai di tengah dinamika pasar yang lebih luas. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sendiri sempat menunjukkan volatilitas tinggi dalam beberapa pekan terakhir, termasuk tekanan tajam yang memicu trading halt di akhir Januari akibat reaksi pasar terhadap pengumuman indeks MSCI yang mengecewakan. Tekanan pada indeks ini turut menekan sentimen pasar secara keseluruhan termasuk saham-saham blue chip. (Databoks)
Dari kacamata analis, meski fundamental jangka panjang DSSA masih menarik termasuk potensi pergeseran portofolio usaha ke segmen digital dan energi baru, sejumlah pengamat mengingatkan bahwa stock split saja tidak cukup untuk mempertahankan momentum harga. Dalam riset Samuel Sekuritas Indonesia, saham DSSA dipandang memiliki prospek kenaikan dan ditetapkan target harga di Rp150.000 per saham, merefleksikan potensi lebih dari 50% dari level perdagangan saat ini, dengan rekomendasi buy oleh analis yang mempertimbangkan diversifikasi bisnis termasuk pertumbuhan segmen teknologi dan infrastruktur digital dalam jangka menengah panjang. (Samuel Sekuritas)
Namun tekanan jangka pendek dan sentimen pasar lemah, ditambah aksi distribusi oleh investor yang mengambil keuntungan setelah lonjakan sebelumnya, membuat laju harga DSSA tertahan. Selain itu, fundamental segmen batubara yang masih menyumbang porsi besar pendapatan DSSA menghadirkan risiko terkait pergerakan harga komoditas global yang fluktuatif, sebagaimana kinerja laba perusahaan yang pernah mencatat penurunan signifikan pada periode sebelumnya. (neraca)
Dalam konteks pasar yang lebih luas, saham energi dan tambang sejauh ini menjadi salah satu pendorong utama performa IHSG sepanjang 2025, namun ketidakpastian makro dan sentimen global tetap menjadi variabel risiko yang harus diperhatikan pelaku pasar. (kontan)