Saham Konglomerat DSSA–BUMI Cs Jadi Motor Penggerak IHSG Sepekan di Tengah Sorotan Analisis dan Aksi Korporasi
- Saham konglomerat seperti DSSA dan BUMI menjadi pendorong utama penguatan IHSG sepekan, dengan kontribusi signifikan terhadap kenaikan indeks.
- Sentimen positif didorong ekspektasi masuk indeks MSCI, peningkatan free float, serta rekomendasi analis yang cenderung bullish.
- Pelaku pasar kini menanti katalis berikutnya seperti review MSCI, rilis kinerja kuartal I/2026, dan arah arus dana asing.
Sepekan perdagangan Bursa Efek Indonesia (BEI) pada periode 9–13 Februari 2026 menunjukkan bahwa saham-saham konglomerat seperti PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) dan PT Bumi Resources Tbk (BUMI) kembali menjadi motor penggerak Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG), meskipun indeks secara umum mengalami volatilitas akibat tekanan jual investor asing dan sentimen eksternal. Secara teknikal mingguan, IHSG mampu mencatat kenaikan 3,49 persen meski ditutup melemah pada akhir pekan, mencerminkan kekuatan domestik yang ditopang oleh reli saham-saham berkapitalisasi besar ini. (RCTI)
Sepanjang pekan ini, DSSA mencatatkan penguatan signifikan 10,48 persen dan menyumbang 31,68 poin terhadap pergerakan IHSG, menjadikannya kontributor terbesar dari sektor konglomerasi bisnis terpadu yang meliputi energi, pertambangan, dan infrastruktur. Di saat yang sama, saham BUMI yang bergerak di sektor pertambangan batu bara dan mineral melonjak 29,2 persen ke level harga yang jauh lebih tinggi dibanding pekan sebelumnya, memberikan kontribusi 17,13 poin terhadap IHSG. Saham-saham lain seperti PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS), PT Barito Pacific Tbk (BRPT), dan emiten telekomunikasi juga ikut menguat yang memperkuat basis penguatan indeks secara luas. (RCTI)
Kinerja positif saham-saham konglomerat ini datang di tengah sentimen kuat seputar perubahan aturan indeks global serta guidance dari pelaku pasar modal. Perhatian pelaku pasar kini tertuju pada peninjauan ulang metodologi free float yang dilakukan oleh Morgan Stanley Capital International (MSCI), yang telah membuka peluang bagi saham-saham berbasis kapitalisasi besar Indonesia untuk masuk ke dalam indeks global. BUMI dan beberapa saham lain disebut berpeluang memenuhi kriteria masuk ke MSCI Standard Index dengan peningkatan free float yang diperkirakan akan diumumkan pada peninjauan berikutnya, meningkatkan ekspektasi permintaan institusional asing. (kontan)
Dari sisi analis, konsensus terhadap saham BUMI relatif positif. Data terakhir menunjukkan rekomendasi Strong Buy dengan rentang target harga jangka menengah yang cukup beragam di kalangan analis, dan potensi kenaikan harga jika breakout teknikal terjadi di resistance penting sekitar level tertentu. Ada analis yang bahkan memproyeksikan target harga lebih tinggi menjelang pemenuhan katalis korporasi seperti akuisisi dan restrukturisasi kepemilikan yang dapat memperbesar free float dan mendukung potensi masuk indeks dunia. (TradingView)
Sementara itu, DSSA juga menunjukkan upside yang menarik berdasarkan konsensus analis yang melihat pergerakan saham ini berpeluang naik lebih lanjut dengan target rata-rata yang mencerminkan apresiasi signifikan dibanding harga saat ini. Saham DSSA dipandang konsisten menunjukkan performa yang kuat dalam beberapa pekan terakhir dan menjadi pemimpin sektor konglomerasi yang berkontribusi besar terhadap market cap free float di pasar domestik. (investing)
Meskipun rally saham-saham ini memberi dukungan kuat kepada IHSG, pelaku pasar tetap mencermati dinamika arus dana asing yang masih menunjukkan kecenderungan net sell dan dampak sentimen global terhadap risk appetite investor. Di luar pergerakan saham konglomerat, sektor energi dan pertambangan menjadi salah satu pendorong utama, sementara sektor keuangan dan konsumer menunjukkan peregangan volatilitas di tengah data makro domestik yang beragam. (RCTI)