Soal Rencana Utang Whoosh Dibayar Menggunakan Dana APBN, Ini Respons WIKA di Tengah Gejolak Saham Bursa

wika2
  • WIKA merespons rencana pemerintah membayar utang proyek Whoosh menggunakan dana APBN, di tengah sorotan terhadap dampaknya pada kinerja dan neraca perseroan.
  • Analis menilai sentimen terhadap saham WIKA masih cenderung hati-hati, dengan target harga dan rekomendasi yang bervariasi seiring ketidakpastian restrukturisasi dan beban proyek.
  • Pelaku pasar kini menanti finalisasi skema pembayaran utang, rilis laporan keuangan terbaru, serta arah kebijakan fiskal pemerintah sebagai katalis pergerakan saham selanjutnya.

Pasca keputusan pemerintah yang menyatakan akan menggunakan dana Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) untuk menyelesaikan utang proyek Kereta Cepat Jakarta–Bandung alias Whoosh senilai sekitar Rp1,2 triliun per tahun, respons dari PT Wijaya Karya (Persero) Tbk (kode saham: WIKA) menjadi salah satu sorotan pelaku pasar di Bursa Efek Indonesia (BEI). Pemerintah melalui Menteri Sekretaris Negara menegaskan bahwa pembayaran utang proyek tersebut akan dibebankan ke APBN, meskipun negosiasi teknis untuk skema final masih berlangsung dengan pihak China. (disway)

Isu ini memicu dinamika yang cukup signifikan di pasar modal Indonesia, terutama bagi emiten konstruksi yang kerap terkait dengan proyek-proyek infrastruktur strategis. Investor dan analis pasar menanggapi keputusan ini dengan hati-hati, melihat kemungkinan dampaknya terhadap neraca keuangan WIKA yang selama ini sudah mengalami tekanan profitabilitas. Di laporan kuartal III 2025, WIKA mencatat rugi bersih hingga Rp3,21 triliun, jauh berbalik dari laba bersih tahun sebelumnya, yang salah satunya dipengaruhi oleh keterlibatan perusahaan dalam proyek infrastruktur besar seperti Whoosh. (TradingView)

WIKA sendiri pernah mengakui bahwa keterlibatannya dalam proyek Whoosh, baik sebagai investor maupun kontraktor, berdampak terhadap kinerja keuangannya dan turut menekan laporan laba rugi perusahaan. Direktur Utama WIKA sebelumnya menyampaikan bahwa peran WIKA di proyek ini mencakup porsi konstruksi dan kepemilikan di konsorsium PT Pilar Sinergi BUMN Indonesia (PSBI). (katadata)

Dari sisi analis, komentar dan rekomendasi terhadap saham WIKA juga memperlihatkan pandangan yang bervariasi. Menurut data konsensus analis, saham WIKA diperdagangkan pada kisaran level tertentu dengan estimasi harga wajar dan proyeksi target jangka panjang yang menunjukkan ketidakpastian, mencerminkan risiko terkait beban utang dan prospek pendapatan perusahaan. Meskipun demikian, data konsensus historis dari platform analis mencatat rentang target harga yang cukup lebar, menunjukkan ekspektasi pasar yang belum bulat terhadap arah pergerakan saham ini. (investing)

Sentimen pasar terhadap WIKA dan sektor konstruksi secara umum juga dipengaruhi oleh kondisi makro pasar modal yang lebih luas. Sejak awal pekan, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menunjukkan tekanan volatilitas, seiring investor mencermati berita pro-risk dan kebijakan fiskal pemerintah, termasuk implikasi penggunaan APBN untuk membiayai proyek besar. Ketidakpastian global, termasuk fluktuasi suku bunga dan nilai tukar rupiah, turut memperkuat kehati-hatian pelaku pasar terhadap saham-saham konstruksi besar. (investing)

Meski demikian, sebagian analis menilai keputusan pemerintah bisa membantu stabilisasi proyek strategis, meskipun menambah beban fiskal jangka pendek. Investor kini tengah mengamati dengan seksama bagaimana langkah restrukturisasi, termasuk potensi peran konsorsium BUMN seperti Danantara dalam negosiasi utang dengan kreditor China, akan dirancang untuk meminimalkan dampak negatif terhadap laporan keuangan WIKA dan pemegang sahamnya. (bloombergtechnoz)

About The Author