TOWR Tancap Gas Perluas Fiber dan Borong Aset, Saatnya Investor Akumulasi?
- TOWR agresif memperluas bisnis fiber dan melanjutkan strategi akuisisi untuk mendorong pertumbuhan pendapatan non-menara.
- Sejumlah analis mempertahankan rekomendasi beli dengan target harga lebih tinggi, didukung prospek ekspansi jaringan dan monetisasi fiber.
- Pasar menanti katalis berikutnya dari laporan kinerja terbaru dan realisasi kontrak baru sebagai penentu arah pergerakan saham.
Aksi agresif PT Sarana Menara Nusantara Tbk (IDX:TOWR) dalam memperluas skala bisnis lewat akuisisi dan ekspansi jaringan fiber kembali menjadi sorotan pelaku pasar di tengah dinamika Bursa Efek Indonesia. Sentimen ini muncul seiring laporan kinerja kuartal I-2025 yang menunjukkan lonjakan permintaan pada segmen non-menara, terutama layanan fiber to the tower (FTTT) dan fiber to the home (FTTH), yang kini menjadi pusat pertumbuhan pendapatan TOWR. (TradingView)
Menurut analis dari Mirae Asset Sekuritas Indonesia, kontribusi segmen fiber terhadap total pendapatan TOWR naik signifikan menjadi 22,4% di kuartal pertama 2025 dari sekitar 19,5% pada periode yang sama tahun sebelumnya, memantapkan pergeseran perusahaan dari hanya penyedia infrastruktur menara konvensional menjadi pemain infrastruktur digital yang lebih lengkap. Pertumbuhan jaringan FTTT dan jumlah koneksi rumah yang terlayani juga tercatat meningkat lebih dari 40% secara tahunan, mencerminkan permintaan konektivitas berkecepatan tinggi yang masif di Indonesia. (TradingView)
Langkah korporasi lain yang turut memperkuat narasi positif adalah aktivitas akuisisi yang dilakukan TOWR melalui anak usaha, memperluas ekosistem layanan konektivitas. Meskipun detail lengkap dari aksi korporasi terkini belum sepenuhnya dipublikasikan dalam dokumen resmi, data perdagangan menunjukkan bahwa pasar menanggapi strategi ini dengan campuran sentimen, mencerminkan ekspektasi investor yang mulai mengalihkan fokus dari model bisnis menara tradisional ke bisnis fiber dan layanan digital berbasis infrastruktur. (PT.Kontan Grahanusa Mediatama)
Dari sisi analis, sejumlah rumah riset mempertahankan rekomendasi beli untuk saham TOWR dengan target harga yang mencerminkan potensi apresiasi dari ekspansi fiber. Laporan terbaru dari KB Valbury Sekuritas di akhir Januari 2026 menegaskan strategi fiber sebagai pendorong utama pertumbuhan laba di tahun fiskal 2026, dan mempertahankan rekomendasi BUY dengan target harga sekitar Rp800 per saham berdasarkan proyeksi valuasi EV/EBITDA yang menarik. Rekomendasi ini didukung oleh ekspektasi kenaikan pendapatan fiber yang lebih kuat daripada segmen menara tradisional, sejalan dengan pergeseran permintaan pasar telekomunikasi. (KB Valbury)
Sebelumnya, riset lain yang dirilis pada akhir 2025 oleh Phintraco Sekuritas juga menyatakan BUY terhadap saham TOWR dengan target price sekitar Rp650, menyoroti diversifikasi pendapatan perusahaan dan kontribusi positif dari akuisisi serta penetrasi lebih dalam ke layanan FTTH dan FTTT meski dengan tantangan churn dari konsolidasi operator telekomunikasi besar. (Phintraco Sekuritas)
Dalam konteks yang lebih luas, pergerakan saham TOWR juga dipengaruhi oleh kondisi pasar saham domestik. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada beberapa sesi perdagangan terakhir bergerak variatif, dipengaruhi oleh sentimen global serta dinamika sektor telekomunikasi dan teknologi yang tengah berevolusi. Pergerakan IHSG yang mampu mencatatkan penguatan dalam beberapa minggu terakhir menjadi latar bagi saham infrastruktur seperti TOWR untuk menarik perhatian investor jangka menengah hingga panjang. (Dupoin)