TRIN Ambruk di Rp 1.025, Laba Meroket Tapi Euforia Saras Menguap
- Harga saham TRIN anjlok ke Rp 1.025 meski proyeksi laba perusahaan menunjukkan kenaikan signifikan.
- Saras Effect mulai memudar, euforia investor terhadap masuknya Rahayu Saraswati sebagai Komisaris Utama berangsur hilang.
- Trader kini menanti katalis baru, termasuk laporan keuangan kuartal I‑2026 dan realisasi proyek ekspansi untuk menggerakkan kembali saham.
Pergerakan saham emiten properti PT Perintis Triniti Properti Tbk (TRIN) kembali menjadi sorotan pelaku pasar modal pada perdagangan Rabu (18/2). Setelah euforia awal yang muncul seiring masuknya Rahayu Saraswati sebagai Komisaris Utama dan investor strategis, aksi ambil untung tampak mendominasi sehingga harga saham TRIN terjungkal ke Rp 1.025 di penutupan sesi, jauh di bawah puncak harga yang sempat dicapai awal tahun ini dan sekaligus mencerminkan “Saras Effect” yang mulai memudar. (PT.Kontan Grahanusa Mediatama)
Sentimen positif bergabungnya Rahayu Saraswati, putri dari keluarga Djojohadikusumo, awalnya sempat mengerek minat beli di saham TRIN karena ekspektasi dukungan modal dan akses jaringan yang lebih luas. Manajemen TRIN bahkan mengonfirmasi adanya kerja sama strategis dengan Rahayu yang akan meningkatkan porsi kepemilikan sahamnya secara bertahap hingga potensi 20% sebagai bagian dari perluasan ekosistem bisnis properti. (pintarsaham)
Namun memasuki pertengahan Februari, reli harga saham tidak mampu bertahan. Meski laporan internal perusahaan menunjukkan proyeksi laba bersih yang meroket dibandingkan kinerja rugi di periode sebelumnya, pelaku pasar justru lebih cenderung melakukan profit taking setelah kenaikan harga yang tajam di awal 2026. Menurut data real‑time, posisi saham TRIN stagnan di sekitar Rp 1.025, memperlihatkan koreksi mingguan yang cukup signifikan dan volatilitas pasar yang tinggi. (TradingView)
Dari sudut pandang analis, sentimen fundamental terhadap saham TRIN masih campuran. Riset teranyar dari Kiwoom Sekuritas Indonesia justru masih mempertahankan rekomendasi “Buy” dengan target harga Rp 1.650, mencerminkan potensi kenaikan jika ekspansi bisnis dan diversifikasi aset berhasil direalisasikan sesuai rencana manajemen. Target ini juga mencerminkan penilaian bahwa valuasi saham saat ini masih undervalued dibanding potensi pertumbuhan jangka menengah. (katadata)
Sementara itu, indikator teknikal terkini menunjukkan tekanan jual yang masih mendominasi dalam jangka pendek, dengan rata‑rata pergerakan (moving average) memberi sinyal netral hingga jual, menandakan bahwa sentimen pasar belum sepenuhnya positif meskipun figura profitabilitas perusahaan menunjukkan perbaikan dari rugi bersih sebelumnya. (investing)
Pergerakan saham TRIN juga tak lepas dari kondisi makro pasar yang lebih luas. Pada sesi perdagangan yang sama, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menunjukkan tren yang cenderung melemah dan bergerak sideways dalam beberapa pekan terakhir, sementara net sell pelaku asing masih dicatat di sejumlah sektor utama. Tren ini mencerminkan preferensi investor terhadap saham blue‑chip dan defensif, yang menekan saham lapis dua seperti TRIN untuk sementara waktu. (Mureks)