WIKA Catat Nilai Kontrak Rp 724 Miliar per Januari 2026 di Tengah Tekanan Kinerja dan Revisi Arah Analis

WIKA
  • PT Wijaya Karya (Persero) Tbk (WIKA) membukukan kontrak baru Rp724 miliar per Januari 2026, memberi sinyal awal aktivitas proyek di tengah tekanan likuiditas.
  • Sejumlah analis mempertahankan rekomendasi hold dengan target harga moderat, sementara peringkat kredit perseroan berada dalam tekanan akibat isu kewajiban utang.
  • Pelaku pasar menanti laporan keuangan kuartal I 2026, progres restrukturisasi utang, dan tambahan kontrak baru sebagai katalis pergerakan saham selanjutnya.

PT Wijaya Karya (Persero) Tbk, dikenal dengan kode saham WIKA, membuka tahun 2026 dengan mencatatkan kontrak baru senilai Rp 724 miliar hanya pada bulan Januari, mengokohkan komitmen perusahaan terhadap realisasi kontrak meskipun menghadapi tantangan kinerja yang masih menekan. Kontrak ini menjadi salah satu sinyal awal aktivitas bisnis konstruksi yang tetap berjalan, termasuk di antaranya proyek-proyek infrastruktur penting yang digarap secara progresif. Nilai kontrak yang dicatatkan secara periodik menjadi fokus investor karena mencerminkan prospek pendapatan di kuartal awal tahun ini, terutama ketika industri konstruksi nasional sedang mencari momentum pemulihan. (kontan)

Realitas pencapaian kontrak ini muncul di tengah konteks kinerja nilai kontrak WIKA yang lebih luas di 2025, di mana perusahaan menargetkan kontrak baru di atas Rp 20 triliun untuk 2026 sebagai bagian dari strategi rebound industri konstruksi yang mulai terasa sejak akhir tahun lalu. Strategi tersebut mencakup fokus pada proyek dengan margin sehat dan pembayaran progres bulanan untuk mendorong stabilitas arus kas. (idnfinancials)

Namun, tekanan juga terlihat dari sisi pasar modal. Konsensus analis terbaru menunjukkan rekomendasi ‘HOLD’ untuk saham WIKA, dengan target harga rata-rata sekitar Rp 259,99 untuk 12 bulan ke depan, mencerminkan ekspektasi moderat terhadap potensi upside saham di pasar yang masih menavigasi tren industri konstruksi yang belum stabil. Rekomendasi ini didasarkan pada pandangan 10 analis, dengan beberapa prediksi target harga berada di kisaran Rp 257,44 hingga Rp 267,64, menunjukkan kepercayaan terbatas terhadap pemulihan cepat kinerja saham. (valueinvesting)

Tidak hanya itu, beberapa penilaian kredit juga mengalami tekanan; lembaga pemeringkat seperti PEFINDO baru-baru ini menurunkan peringkat beberapa instrumen hutang WIKA menjadi idD dari idCCC menyusul penangguhan pembayaran kupon obligasi dan sukuk yang jatuh tempo awal Februari 2026. Aksi penurunan peringkat ini menggambarkan tantangan likuiditas yang dihadapi perusahaan dan menjadi salah satu faktor yang diperhitungkan analis dalam memberi outlook yang lebih konservatif terhadap sahamnya. (Petromindo)

Pergerakan saham WIKA juga mencerminkan dinamika yang lebih luas di pasar modal Indonesia, di mana indeks harga saham gabungan (IHSG) terus bergerak berfluktuasi akibat sentimen makro ekonomi dan laporan kinerja perusahaan lain. Dalam sesi perdagangan terakhir, saham WIKA diperdagangkan di kisaran harga stabil, tetapi risiko volatilitas tetap tinggi mengingat tekanan dari kondisi neraca dan tantangan arus kas yang dihadapi perusahaan. (finance)

About The Author